Pagi Baru Saja Bermula
Elin Tanama
a/
Pagi baru saja bermula
Jari-jemari kaki saling berpelukan mencari hangat, dan melupakan sandal karet yang sudah usang seperti tuannya
Napas-napas mencampuri embun lalu mengudara
Kulit badan sudah tersambar kabut-kabut malam yang tergelar
b/
Dijalanan sudah mulai menyanyikan lagu kelamnya
Asap-asap sudah mengangkasa,
lalu lahir baru para generasinya dari rahim-rahim yang hampir rusak
dan memusuhi setiap jiwa yang berkeliaran bebas dijalanan
c/
Tidak ada harapan, selain menanti matahari yang terlahir sempurna
Lalu segera bangkit dan mengutip rupiah-rupiah yang berguguran
Mereka makan dan melanjutkan kepedihan
Keringat dan lelah dibiarkan bertapa pada tubuh dan usia yang renta,
seakan sebungkus nasi yang tersantap, tak memberi nikmat barang sedetik
Setelah habis, mereka kembali pada harapan kecil yang Tuhan julurkan
:menanti matahari terlahir sempurna dan melanjutkan hidup yang penuh dengan nestapa.
Pagi baru saja bermula.
Yogyakarta, 15 Juni 2020
Sepotong Puisi Untuk Kekasihku
Risdawanti
Pada matamu yang basah,
ada tangan terus tengadah
Pada bibirmu yang pasi,
ada kalbu dikoyak-koyak sepi
Pada malammu yang temaram,
ada cemas tak kunjung padam
Aku mengingat hari di saat tubuh
dan mataku keluar darah
Kesakitan dan kesedihan
mematah-matahkan seluruh badan
Kau menawarkan pelukan dan jemari
yang siap menghapus hujan
Di saat serupa, aku akan datang pula
membawa pundak dan doa yang tak pernah selesai.
Keluarkanlah segala kepedihan—sebab kita tidak mengenal kata sendirian
Dolok Masihul, Mei 2021
Tubuh yang Lain
Vera Nurfarhiyatin
Akhir-akhir ini, kau merasakan sakit
seperti digerogoti penyakit
di sekujur tubuhmu
yang terlihat biasa-biasa saja
Di sudut mata, kau merasakan air menggenang
membasahi pipi putihmu
padahal kau tak lagi sedih
sebab kehilangan kekasih
Kau mulai mencocokan
kemungkinan-kemungkinan
pada tubuhmu yang tak lebam
namun seperti ditikam habis-habisan
Mulanya, kau menyangka
ini adalah guna-guna
padahal, kau lupa
ada tubuh lain yang kesakitan
Kuningan, 24 Mei 2021
Nomor Tidak Dikenal
Maryam Muwanah
Siang itu, puluhan kali nomor baru menelepon
Menyisakan riwayat panggilan
Berderet angka yang tipis selisihnya
Aku tidak merasa terpanggil, tetapi menggigil
Ponsel itu mentertawakanku
Beberapa kali meledek
Sentuh ikon gagang telepon 1
Bicaralah ada urusan apa dengan nomor ini?
Pemiliknya sedang berdiam diri
Menapaki sepi, menghitung mimpi
Baginya hari lebih panjang malam
Bulan belum mau padam
Ponsel itu terus menggodaku
Kali ini lebih menjengkelkan
Menggetarkan tubuhnya dengan dering
Makin lama makin melengking
Siang itu, pesan masuk dengan nada berbeda
Mengagetkan pena yang sedang mengantuk
Tanganku menyambar kelelahan
Layar depan bertuliskan pesan baru
Terbaca separuh
Aku menunggumu
Kemudian
Pesan ini telah dihapus
Banjarnegara, 21 Mei 2021
Kalo sdh follow akun ig nya berarti yg lain ga perlu kan min?
BalasHapus