Puisi Lukman HJ Baraheng




Titisan Hikmah

 

saat hujan turun,

semua menjelma jadi kenang

bahkan rintiknya bukan lagi air
tetapi rindu yang berguguran.

 

saat kopiku terseduh, semua menjelma jadi kenang
bahkan isi cangkirnya bukan lagi air
tetapi kau yang menggenang.

 


 

Di Bawah Naungan Bulan

 

aku masih hangat menyusun doa-doa
agar ia tidak tampak suram ketika tidak ditemani bintang
mungkin matamu masih luka
sehingga tidak ingin memancarkan cahaya
epilog kita malam ini dibawah naunganmu yang kelam
wajahmu yang terkenang

 


 

Sinaran Mata

 

Kala diri terjungkal ke dalam lembah kosong
Hingga berdiri di tiupan angin topan,
Daku kibarkan beribu-ribu kata mengitari ufuk jingga
Hempaskan dendam-dendam ke seluruh penjuru dada.
Seolah bertanya dengan cahaya matanya
Kapankah dapat menemani mengikat janji
Belumkah bersiap untuk berjuang memegang amanah suci
Sedang air mata berlutut menunggu datangnya dir
i.

 

 


Tentang Penulis

Lukman HJ Baraheng, lahir di Yaha, Yala, Thailand Selatan,  20 April 1997. Alumni dari Jamiah Islamiah Syekh Daud Al-Fathoni (JISDA) ini sehari-hari membantu Kyai Pondok Raudhotul Fuhum al-Duryani yang diasuh oleh Abu Sholih K.H. Mohammad Marwan Bin Abdul Syakur dalam bidang Nahwu-Shorof Fikih dan Pengantar Ilmu Bahasa Arab. Dia merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan Bapak Ahmad HJ Baraheng dan Siti Maryam Woni’. Saat ini menjadi mahasiswa transfer di Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.