Titisan Hikmah
saat hujan turun,
semua menjelma jadi kenang
bahkan rintiknya bukan lagi air
tetapi rindu yang berguguran.
saat kopiku terseduh, semua menjelma
jadi kenang
bahkan isi cangkirnya bukan lagi air
tetapi kau yang menggenang.
Di Bawah Naungan Bulan
aku masih hangat menyusun doa-doa
agar ia tidak tampak suram ketika tidak ditemani
bintang
mungkin matamu masih luka
sehingga tidak ingin memancarkan cahaya
epilog kita malam ini dibawah naunganmu yang kelam
wajahmu yang terkenang
Sinaran Mata
Kala diri terjungkal ke dalam lembah kosong
Hingga berdiri di tiupan angin topan,
Daku kibarkan beribu-ribu kata mengitari ufuk jingga
Hempaskan dendam-dendam ke seluruh penjuru dada.
Seolah bertanya dengan cahaya matanya
Kapankah dapat menemani mengikat janji
Belumkah bersiap untuk berjuang memegang amanah
suci
Sedang air mata berlutut menunggu datangnya diri.
Tentang Penulis
Lukman HJ Baraheng, lahir di
Yaha, Yala, Thailand Selatan, 20 April 1997.
Alumni dari Jamiah Islamiah Syekh Daud Al-Fathoni (JISDA) ini sehari-hari
membantu Kyai Pondok Raudhotul Fuhum al-Duryani yang diasuh oleh Abu Sholih K.H.
Mohammad Marwan Bin Abdul Syakur dalam bidang Nahwu-Shorof Fikih dan Pengantar
Ilmu Bahasa Arab. Dia merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara yang lahir
dari pasangan Bapak Ahmad HJ Baraheng dan Siti Maryam Woni’. Saat ini menjadi
mahasiswa transfer di Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri
Purwokerto.
