Materi ini disampaikan oleh: Nurul Insan, M. Pd.
LCPN adalah suatu ajang penulis puisi (penyair) mengukur kemampuan menulisnya di dunia perlombaan. Sering kali LCPN menjadi media atau wadah untuk memberikan apresiasi kepada penulis puisi (penyair). Menurut saya karya tanpa apresiasi akan mati. Begitulah yang akan terjadi jika penulis tidak menemukan pembaca yang minimal memberikan apresiasi berupa penilaian, syukur-syukur memberikan kritik dan saran.
Menurut Kak Nurul, bagi penulis pemula, ada beberapa hal yang saya amati dalam mengikuti dunia event yang sering tidak diindahkan, sehingga dari beberapa penyelenggara hal itu sangat berpengaruh dalam sebuah penilaan, walaupun menurutnya kelalaian itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kualitas sebuah tulisan, tapi karena ini sebuah perlombaan, maka hal itu sangat perlu diperhatikan. Kelalaian itu yang sering ia temukan adalah tidak mengindahkan Syarat dan Ketentuan yang sudah ditetapkan oleh penyelengga.
Apa saja syarat dan ketentuan itu?
Pastinya teman-teman sudah tahu, yaitu segala ketentuan yang sudah tertera di banner lomba, misalnya :
- Follow akun
- Share Poster
- Ketentuan naskah seperti : ukutan kertas, font, size, margin, spasi, dll.
Hal itu pernah ia alami sendiri ketika mengikuti suatu event beberapa bulan yang lalu, ketika nilai diumumkan, ternyata naskah saya dikurangi 5 poin dengan alasan margin tulisan saya tidak normal (2,54). Padahal selisih skor dengan juara 1 pada saat itu cuma 4, akhirnya tiga besar pun gak lolos. Kalau dipikir-pikir kesalahan itu tidaklah begitu berarti, karena naskah nanti ada tim editor ketika akan digabungkam dengan naskah teman-teman yang lain.
Kembali lagi karena ini perlombaan, maka kelalaiannya tetap dijadikan bahan pertimbangan terhadap penilaian. Berawal dari itu, untuk event selanjutnya masalah margin tetap beliau prioritaskan terlebih dahulu sebelum menulis naskah.
Sedangkan kiat-kiat menjadi juara LCPN, sebenarnya Kak Nurul tidak punya kiat khusus, karena setiap menulis beliau mengalir seperti biasa membuat semaksimal yang beliau bisa. Namun, berdasarkan pengalaman, ada beberapa poin yang dapat Kak Nurul petik atas keberhasilannya selama mengikuti dunia lomba yaitu terdiri atas dua cara:
Kiat pertama berasal dari dalam diri sendiri, yaitu tujuan kita mengikuti event itu apa?
Ini adalah poin penting yang harus teman-teman pahami. Dalam menulis yang perlu diluruskan adalah niat. Jika niat lomba hanya sekadar juara, maka segala cara bisa dilakukan, seperti plgiarisme atau sogok-menyogok dalam beberapa kasus.
Menurutnya niat adalah peran pertama dalam mendukung segala langkah yang kita lakukan, tanpa niat yang ikhlas, maka hasilpun tak akan imbas. Oleh karena itu kepada teman-teman semua, keikhlasan dalam berkarya perlu ditanamkan dalam hati agar isi tulisan yang ingin disampaikan sampai juga ke hati.
Kiat kedua berkenaan dengan daya intelegensi kita masing-masing, dan ini tidaklah sama untuk setiap orang, tapi bisa dilatih dengan latihan tanpa henti...
Kenapa daya intelegensi sangat berperan?
Mengingat dalam perlombaan, ada tema yang harus kita pahami, apalagi kalau temanya bebas sangat menuntut kekuatan otak kita dala menggali sebuah ide. Di sinilah kita akan diadu kekuatan tulisan kita.
Untuk tema yang sudah ditetapkan dari penyelenggara, biasanya yg saya lakukan mencari referensi tentang tema itu sendiri. Setelah dirasa cukup, tahap selanjutnya kita buat semacam skenario dalam pikiran kita tentang alur cerita yang mau ditulis seperti apa, starting dari apa dan endingnya di titik mana. Setelah bayangan cerita sudah terbentuk, mulailah menulis sedikit demi sedikit.
Setelah tulisan jadi, hal yang penting kita lakukan adalah revisi. Hentikan revisi ketika naskah sedang berjalan, tulis saja apa adanya, meski ketika selesai nanti kadang alur cerita sering gak nyambung, dan saat itulah baku hantam typo-typo laknat yang mengganggu. Kak Nurul juga menambahkan:
"Biasanya saya tidak pernah kurang 10 kali revisi sebelum naskah fix untuk dikirim..."
Kemudian, kita kembali ke kaidah kepenulisan :
Bagi penulis pemula, biasanya ketika sudah hafal diksi-diksi keren, biasnya menganggap itu adalah senjata utama untuk bisa menang, padahal apapun kata-kata yang ada artinya, baik bahasa daerah, bahasa Indonesia, bahasa Sansekerta, semuanya adalah diksi. Karena diksi itu sendiri adalah pilihan kata. Jadi, kita bebas memilih diksi apa yang mau kita gunakan. Hanya saja yang perlu diperhatikan, pilihan itu sudah benar atau belum, sudah sesuai atau belum dalam mereaksikannya dengan unsur-unsur kata yang lain.
Perlu teman-teman pahami, diksi itu bukan hanya kata-kata seperti atma, nabastala, padika, dll. Tapi itu adalah bagian dari sebuah diksi. Biasanya diksi-diksi seperti itu orang menyebutnya sebagai diksi berat atau diksi bersayap.
Memang bagus digunakan jika padanan katanya tepat, tapi yg sering saya temui banyak teman-teman penulis asal makai diksi-diksi itu akhirnya tulisan jadi miskin arti.
Padahal, dari penulis ternama, yang beliau pernah baca, mereka mengatakan " Buatlah tulisan dengan kata-kata sesederhana mungkin" Berawal dari itu, dari beberapa tulisan beliau yang pernah menang, hampir semua puisi saya menggunakan diksi-diksi ringan, diksi bersayap sekadar bumbu saja. Tambahnya. Tahukan bumbu? Buat penyedap. Kalau bumbu terlalu banyak, masakan juga gak enak.
Kembali lagi ke masalah event. Karena tulisan yang kita buat sifatnya perlombaan, dan tugas utama penulis adalah bagaimana menggiring pembaca (juri) bisa larut dan hanyut dalam tulisan kita, sehingga ruh tulisan sampai ke pembaca.
Perlu diingat! Dalam lomba tulisan baik itu puisi atau quote, yang sering para penulis lalaikan adalah, membubuhi makna dalam tulisan itu. Karena puisi atau quote itu adalah tulisan yang ada maknanya atau ada pesan moral yang ingin disampaikan.
Jika tulisan yang kita buat tanpa ada makanya, hanya sekadar mengandalkan keindahan kata-kata saja, maka inilah yang membuat nilai jatuh ketika penjurian. Karena tulisan yg dibuat itu bukanlah puisi atau quote hanya sekadar sajak biasa. Puisi sudah tentu sajak, sajak belum tentu puisi. Jika mengikuti lomba cipta puisi tapi yang dikirim sajak biasa atau sekadar ungkapan hati, maka sudah jelas kemenangan masih jauh dari kenyataan.
Kemudian yg perlu diperhatikan dalam tulisan, jangan terlalu datar isinya, buat letupan di bait akhir, agar pembaca terkuras emosinya, inilah kesimpulan sebuah tulisan, tapi tetap diplot dalam kalimat yang membuat pembaca menentukan sendiri isi tulisan kita.
Intinya yang perlu teman-teman pahami bahwa sebuah karya tidak ada yang jelek, semua bagus tergantung selera penikmatnya seperti apa. Hanya saja karena puisi itu adalah etika berbahasa indah, maka kaidah kepenulisan tetap perlu perhatikan yaitu tentang rima, diksi, kemudian kuatkan di permainan katanya. Latihan tanpa batas maka pengalamanlah yang akan menggiring tulisan jadi berkualitas, pungkasnya dalam pematerian seminar Kosana.
Kesimpulan Materi Kiat-Kiat Jadi Juara LCPN Nurul Insan Yaitu:
1. Keberhasilan suatu lomba kita harus memulainya dengan mengikuti SK yang tertera dalam poster.
2. Mantapkan niat tujuan mengikuti event.
3. Daya Intelegensi, pahami tema untuk membuat suatu ide lahir sebagai karya.
4. Jangan pernah bosan merevisi karya sebelum dipublikasikan.
5. Diksi bersayap bukan senjata utama, tapi makna dalam puisi yang kita suguhkan.
6. Beri kejutan di akhir tulisan seperti kesimpulan isi tulisan.
Penyunting Naskah: Intan Hafidah NH
