Kekhilafan Penulis Puisi Pemateri Irna Novia Damayanti

Kilas Balik Materi  Kekhilafan Penulis Puisi Pemateri Irna Novia Damayanti

Kesalahan Penulis?  Sebagai penulis tetap membutuhkan koreksi dari pembaca. Seperti itulah suatu tulisan dapat berkembang. Minimnya kritik sastra di Indonesia akan berdampak pada perkembangan karya penulis. Maka dari itu setiap masing-masing penulis harus pintar menjadi editor pribadi terhadap tulisannya sendiri. Bagaimana caranya? Dengan sadar akan adanya kesalahan yang pernah dilakukan. 

Orang yang suka puisi pasti ingin menulis puisi yang indah dan bermanfaat. Ingin juga memenangkan lomba, masuk ke media dan mungkin di kirim ke pacar biar dapat pujian (yang punya pacar). Namun tampaknya hasil kadang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Puisi tidak diterima secara baik oleh redaktur, dewan juri atau pacar. 

Kita akan sedih dan merasa gagal sebagai penulis puisi. Padahal menulis puisi itu butuh pembiasaan yang lama, dan kegagalan adalah hal yang perlu dipersiapkan  (namanya aja belajar).

 Melakukan kekhilafan dalam menulis kadang tidak kita sadari. Oleh karena itu, di sini saya mengajak temen-temen semua untuk introspeksi puisi kita secara berjamaah.  Sebelum membahas kekhilafan apa saja yang mungkin kita lakukan. Perlu lebih dahulu memahami puisi. Karena tanpa memahaminya, kekhilafan kita semakin fatal. Ada dua hal yang ada di dalam puisi yaitu "pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca" dan "bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan." Kekhilafan2 yang kita lakukan tentunya juga tidak jauh dari dua hal itu.

Sekian tahun saya menulis puisi, tentunya juga saya pernah melakukan kekhilafan dan ada juga kekhilafan yang saya temukan dari beberapa orang yang memberikan puisinya kepada saya untuk dibaca. Beberapa kekhilafan itu yaitu sebagai berikut:

 1.  Curhatan semata 

 Puisi yang ditulis dengan bentuk curhatan, apa adanya sesuai apa yang ada di kepala, tanpa memikirkan diksi yang estetik merupakan kekhilafan yang fatal. Hal ini jika dianalogikan seperti cak kangkung yang baru dipetik dan belum dimasak lalu disajikan ke pembaca. Dan kita memaksa pembaca untuk memakannya. (Nggak sekali bukan). Sebenarnya ini bukan puisi yang jelek, hanya saja puisi yang belum selesai dibuat, karena masih dalam bentuk pesan yang ingin di sampaikan pembaca. Puisi dalam bentuk ini bisa diperbaiki dengan memberikan unsur estetik di bagian gaya bahasanya.

 2. Puisi kurang fokus

 Kalau pada bagian ini terjadi karena nafsu berbuat baik kita yang sedang over dosis (jika di bagian pesan) atau imajinasi yang kurang kontrol (jika di bagian gaya bahasa). Alangkah baiknya pilih satu hal dan ditulis sedetail mungkin. Pilih bagian yang paling penting dan dibutuhkan pembaca. Pasti akan lebih diminati pembaca.

 3. Pernyataan umum

 Pernyataan umum boleh digunakan pada puisi, namun jika penggunaannya terlalu over atau mungkin sampai full puisi, tentunya itu tidak di sukai pembaca. Puisi dalam bentuk ini juga bisa menjadi puisi menarik jika pesan yang di sampaikan memang sudah menarik misal tradisi suatu daerah yang belum diekspos. Jika diedit kembali di bagian gaya bahasanya, pasti akan menarik. Namun jika di bagian gaya bahasa dan juga isinya umum, mungkin perlu baca beberapa buku puisi sapardi. Karena beliau bisa menulis hal umum tapi dikemas dengan gaya bahasa yang menarik.

4. Menggurui

 Puisi terkesan menggurui, ketika gaya bahasanya seperti teks pidato, ceramah atau makalah yang gaya bahasa kurang estetik juga.  Hal ini miris.

 5. Main comot sana sini

 kalau ini terjadi karena penulis udah tidak mau mikir lagi, kebanyakan tugas, kalau ndak terlalu tergiur puisi orang lain namun dirinya belum mampu menuliskan hal sama.  Namun waspadalah, jangan sampai plagiasi. Kita boleh khilaf dalam menulis puisi, tapi tetap selalu belajar memperbaiki kehilafan agar menjadi lebih baik. Karena kita diciptakan oleh kebaikan dan diamanahi melakukan kebaikan oleh Maha kebaikan.

Caranya tentu ada beberapa tahap yaitu:

1. Sering mengajari diri untuk membaca puisi.

2. Mengajari diri membaca sampai paham pesan apa yang disampaikan puisi yang kita baca juga memahami cara pesan itu disampaikan oleh penulisnya .

3. Mempelajari rancang bangun dari puisi orang lain sampai kita menemukan sendiri rancang bangun kita yang menjadi ciri khas kita.

Dengan membiasakan hal seperti itu, pasti kita akan tanggap utk tdk melakukan kekhilafan. Karena dengan cara itu kita bisa lebih mengenal puisi dan perkembangannya di masa sekarang. 

Kenapa puisi kita terasa kurang, karena sebelum menulis kita belum menyiaplan apapun. Otak kita belum siap menulis. Kalau dianalogikan kita punya poci kosong dan kita ingin minum teh. Selama apapun poci kosong itu dituangkan, tidak akan keluar apapun   kalau sebelumnya tidak kita isi terlebih dahulu. Dengan membaca puisi orang lain bukan bermaksud meniru tulisan orang lain, namun mengisi dan menyiapkan otak kita untuk menulis. Mengisi pengetahuan.

 Puisi yang jatuhnya menggurui itu karena pemilihan sudut pandang yang keliru. Kalau tidak kurangnya tepatnya memilih diksi. Solusinya bangunlah imajinasi pembaca dengan diksi-diksi yang berhubungan dengang benda-benda di sekitar, libatkan indra kita pula. Semoga mencerahkan.

Contoh Puisi Curhatan 

Aku merindukan senyummu 

Aku berdoa

Semoga aku segera menemuimu 


Puisi 

Di pangkuan doa ada puisi yang kurindu 

Semoga waktu cepat membawaku 

Menuju senyummu 

Perbedaannya puisi hanya curhatan dan bukan pada imajinasi terbangun ketika dipuisikan.

Setiap penulis pasti pernah dalam proses belajarnya menemukan kekhilafan-kekhilafan. Namun sebagai pembelajar yang baik, dari kesalahan itulah kita semakin paham dan mengerti bagaimana cara menulis agar menghasilkan karya lebih baik lagi. Materi ini merupakan materi diskusi mingguan KOSANA yang dibawakan oleh Irna Novia Damayanti sebagai pembicara dalam forum kami. Semoga dapat mencerahkan.


Penyunting Naskah Materi: Intan Hafidah NH

Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.