Kilas Balik Materi Tips Trik Kirim Media Pemateri Bagus Likurnianto
Mengapa perlu publikasi karya melalui media? Karena karya tanpa apresiasi akan mati lambat laun. Entah mati semangat, mati gairah nulis, mati rasa ataupun, mati cinta menulis. Suatu karya khususnya tulisan bukan hanya ditulis untuk diri sendiri tapi kebermanfaatannya sebagai fungsi tertentu untuk masyarakat luas. Maka dari itu berkarya tidaklah boleh egois. Bolehlah karya itu berisi curhatan saja, namun dari curhatan tersebut pun pasti ada khikmah yang dapat diambil dari sudut pandang orang lain.
Setiap kejadian pasti tidak hanya menimpa satu individu bukan? Curhat pun kadang perlu media untuk mengungkapkan atau mengekspresikan misal di story WA, IG, FB, bahkan curhat ke sahabat pun itu namanya mempublikasi. Nah yang akan dibicarakan nanti skalanya luas, bukan hanya egois karya untuk diri sendiri, melainkan untuk kebermanfaatan orang lain, yaitu dengan mengirim karya ke MEDIA MASA. Sehingga karya kita bisa menjumpai pembaca lebih luas. Bentukan media itu apa aja? Bisa dalam bentuk aplikasi, majalah, koran, poster, brosur, iklan, dan masih banyak lainnya.
Pertama, "Tentang Media Itu"
Penulis harus tahu genre tulisan, kriteria tulisan, atau hal lain yang sekiranya perlu disesuaikan. Misal nih, sebutlah Radar Banyumas, yang memprioritaskan penulis dari Keresidenan Banyumas. Maka, penulis yang berasal dari luar daerah musti paham akan tidak mudah menembus media tersebut. Atau alif.id yang hanya menerima tulisan religi Islami, dan sebagainya.
Kedua, "Tentang Ambisi"
Ambisi adalah sesuatu yang wajar bagi setiap penulis. Tapi harus sadar, kalau ambisi tidak terpenuhi, maka belakangnya juga pasti ada dampaknya, yakni bisa berupa kecewa, atau bahkan pasrah, atau mungkin lainnya. Ambisi ini sebetulnya boleh memang, tetapi, ada baiknya ambisi ini kita kendalikan, mengingat ada beberapa unsur yang tentu saja menjadi penimbang dimuat atau tidaknya suatu karya. Akan tetapi tentang perihal kualitas karya.
Ketiga, "Tentang Kualitas karya"
Kualitas karya ini kemudian menjadi pertimbangan bagi penulis itu sendiri. Bagaimana penulis menyadari sampai mana kualitas karyanya dan dapat cocok diterima di media mana. Kalau kiranya karya itu bagus banget, bolehlah kirimkan ke media yang bagus. Meski tidak menutup kemungkinan, karya yang tidak bagus (jelek; ditulis asal) bisa dimuat secara beruntung. Bermain peluang boleh, asalkan tidak selalu mengandalkan keberuntungan.
Bagaimana cara mengetahui kualitas karya? Tentulah penulis sebaiknya memiliki teman untuk diajak berdiskusi membahas karya yang telah dituliskan. Teman yang memang paham mengenai jenis karya tersebut. Misal, karya puisi diskusi dengan orang yang paham puisi, esai dengan orang yang paham dengan esai, dan sebagainya.
Keempat, "Tentang Biodata Diri"
Biasanya biodata untuk mengirim ke media berupa narasi. Sebaiknya biodata tidak perlu muluk-muluk. Sederhana saja tapi berisi.
Kelima, "Tentang Kriteria Media"
Kriteria tulisan yang media tersebut inginkan itu seperti apa. Kita perlu tau juga. Tetapi, bukan berarti demi dimuat media tersebut kita harus bikin seperti yang dia mau. Karena sebaik-baik karya tetaplah karya yang lahir sekehendak pengkarya itu sendiri. Hanya saja di sini, kita perlu paham kriteria karena kan tulisan kita itu kadang atau malah seringnya acak (dalam artian tidak menentu hasilnya). Dari situlah kemudian kita mengira-ngira, tulisan kita itu cocoknya dikirim ke mana?
_________
Tentang ini pula penting kita ketahui lebar halaman. Kalau halamannya sempit ya tulisannya jangan kepanjangan. Demikian sebaliknya. Berikut merupakan pembahasan hasil tanya jawab dengan pemateri:
1. Cara membuat biodata:
Biodata yang muluk-muluk misalnya riwayat pendidikan ditulis semua. Terus cita-cita, dan hal yang sebetulnya tidak diperlukan untuk biodata kepenulisan. Contoh biodata penulis ada narasi: lulus dengan predikat cumlaude, dll. Editor sepertinya tidak terlalu butuh yang seperti itu. Apalagi yang sampai melampirkan sertifikat juara dan sebagainya. Cukup pengalaman penting saja yang perlu ditulis.
2. Tips agar dimuat:
Selain kualitas, bisa dilihat dari panjang-pendek tulisan. Misal saya misalkan puisi panjang bagus banget. Tapi kirimnya ke Kedaulatan Rakyat yang hanya mampu membuat tulisan yang sedang atau bahkan pendek. Tentu kualitas bagus pun tidak bisa masuk. Tapi, kalau puisinya pendek atau sedang, walau kualitasnya kurang, bisa saja dimuat. Lalu, tekad penulis, kadang itu ada media yang sengaja mengetes seberapa penulis mau berjuang kirim terus sampai dimuat.
3. Media mana untuk pemula:
Berdasarkan pengalaman Bagus Likurnianto saat awal-awal pengiriman media. Ada media yang cocok untuk pemula yaitu nusantaranews.co, simalaba.net, negerikertas.com, Radar Mojokerto, Radar Cirebon, Kabar Madura, dan masih banyak lagi. Kalau memang percaya diri dengan karyanya, sudah didiskusikan dengan orang lain dan hasil karyanya bagus, coba saja kirim ke Pikiran Rakyat (Jawa Barat) dan Minggu Pagi (Yogyakarta).
4. Motivasi Menulis:
Punya alasan yang kuat "mengapa kita menulis". Dengan demikian kita akan terus berproses, termasuk di dunia media massa.
Bagus pun menulis karena ingin membahagiakan orang tuanya. Menurutnya selama ini tidak bisa melakukan banyak hal, tidak punya prestasi lain selain menulis. Jadi, ia terus menulis karena ia memiliki alasan "mengapa saya menulis".
5. Strategi Kirim Media
Dalam mengirim karya ke media, hendaknya kita perhatikan kalimat ini:
Dari daerah menyerbu ibukota
Artinya mengirim karya ke media Nasional, khususnya yang terbit di Ibukota, semisal Kompas, Tempo, Media Indonesia, The Jakarta Post, dan lainnya. Sebaiknya mulai dari koran daerah terlebih dahulu. Sebab, tidak mudah bagi orang yang belum pernah dimuat, untuk langsung bisa tembus di media yang disebutkan tadi.
Kesimpulan Materi dan Diskusi:
Untuk kirim media pertama kita harus berkenalan. Entah itu berkenalan dengan medianya itu sendiri tipe tulisan yang dimuat, berkenalan dengan kualitas karya kita, memiliki target dan motivasi untuk kirim media. Fokus pada tujuan menulis agar tetap konsisten nulis dan akhirnya tembus media. Jujur pada potensi diri masing-masing tidak memaksakan di luar kapasitas pribadi.
Penyunting Naskah Materi: Intan Hafidah NH
