Sajak Fatiya
Kamar Tidur
Puisi adalah kamar tidurku
Aku menjatuhkan setiap beban ke atas kasur
Menempatkan setiap memori pada rak teratur
Kadang terlalu lelap hingga melindur
Seakan ada di dalam sebuah pelukan
Aku tenggelam dalam kenyamanan
Setangkai pena bagaikan pohon trembesi
Tintanya bagaikan cahaya berkilauan
Kertas putih bagaikan selimut penuh kehangatan
Maka akan kau temukan diriku yang tersembunyi
Dalam rangkaian bait puisi
Entah sedang tidur atau tengah berpuisi
Tapi jangan ketuk pintu yang berkisi
Karena aku suka sunyi
Kini aku harus pergi
Meninggalkan kamar ini
Untuk memulai hari
Dan menemukan bait puisi lagi
Bandung, 24 Mei 2021
Sajak Intan Hafidah NH
Musim Puisi
Ada yang ikut bertamu
pada sepasang mata penyair
di dalam kepalanya itu.
Dua tanda baca
memainkan logika
Pertama tanda seru, aduh!
Sisanya tanda tanya, kenapa?
Ketika kata menemukan kata lain
Manusia menemukan manusia lain
Dan frasa mencipta makna; cerita baru
Dan perkenalan membikin hubungan baru
Ia senyum-senyum sendiri
ada yang ikut bertemu
Pada sepasang hati
di musim puisi
Banyumas, 24 Mei 2021
Note: puisi ini telah dipublikasikan di cerano.id pada tanggal 12 Juni 2021.
Sajak Risdawanti
Pada yang Tak Sampai
Pada bibirnya yang pasi
Kata-kata wafat setelah ditelanjangi sepi
Pada matanya yang binar
Tersimpan memar ditikam amar
Pada alisnya yang lanskap
Tersusun elegi berwarna gelap
Pada rambutnya yang hitam
hakikat berjalan menuju makam
Pada telapak tangannya yang berduri
Muncrat darah dari kuat-kuat genggam jari
Di sini; tempat antah berantah.
Dia melupa pulang dan nama sendiri.
Medan, 10 Mei 2021
Sajak Shofiyah
Sutradara
: Larung
kita jadi apa?
seorang diperuntukkan dengan gemertuk
kekecewaan melanda
tak cukup bekal;
kebas dilibas dengan sebait ucapan, tapi
hati—siapa yang paham?
kita menuntut apa?
t'lah habis gurindam direndam dalam-dalam,
sejak sajak menjadi pelampiasan
usai
kepergian teramat dalam
: lumpuh mengingat yang terlarang
menuju pagi, mencari petang
nafkah dipertanggungjawabkan
siut.
berlama-lama dengan cuaca, seperti
katamu
mendung tak mendulang hujan, terkadang
sepi memuarakan tangisan
dan aku di kejauhan sibuk berpesta
apa yang hendak kususun untuk menolak?
lantaran kemauan adalah jebakan
paling curang
dinobatkan dengan senyuman
dipangkas dengan pedang,
setajam
keluh rasa sayang berhamburan.
kau menjerit memuji nama Tuhan
sementara
di pinggir-pinggirmu merapal aamiin
keliru dengan aman
amal kebaikan seraya dibuka lebar-lebar
: tapi neraka menjadi pilihan
aku diminta memilih si A,
sialnya tak ada pembelaan
tangan Tuhan apakah telah berganti?
hingga
yang kukenal adalah skenario miliknya,
manusia
Probolinggo, 10 Mei 2021
