KERTAS BAYANGAN
Oleh: Dewi Sukmawati
Setelah melihat tikus-tikus berlarian di sawah karena ada ular pemangsa, tiba-tiba aku sadar akan persamaan ekosistem alam dan kepemimpinan. Di alam ada ekosistem rantai makanan dengan adanya padi, tikus, ular, dan elang. Dalam kepemimpinan pula ada kaki, tangan, kepala, dan satu lagi, kalian pasti tidak kepikiran. Satu poin dalam kepemimpinan di atas kertas bayangan ini adalah perut. Tempat di mana menyimpan hasil kekuasaan.
Rahasia itu bukanlah rahasia lagi. Di perkotaan sampai pedesaan sama saja. Praktek-praktek tidak sehat sekarang menjadi sehat-sehat saja. Sehat bagi para penguasa dan kronis bagi para orang miskin. Seperti aku sendiri di sini. Cita-citanya ingin membangun desa dengan bersih. Tapi apa daya, dunia bayangan membawaku ke pintu kehidupan baru. Hidup tanpa batasan. Menyenangkan bukan. Walaupun aku menjadi kaki di sini. Tapi setidaknya aku bisa menginjak tanah dengan mudahnya.
***
Jangan lupa coblos nomor 4. Di jamin keadilan akan di tegakkan. Nasib petani dan nelayan akan sejahtera, ujarnya sambil membagikan amplop putih pada warga.
Desa Tambaklusi memang begitu luas. Kaya akan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan. Sepatutnya desa ini menjadi desa yang maju. Tapi sayang, pendidikan di sini saja masih rendah. Banyak yang tidak sekolah. Pendidikan tertinggi hanya SMA. Itu juga untuk golongan orang-orang kaya. Maka dari itu, orang-orang yang berpendidikan paling tinggi di desa ini ramai mencalonkan diri. Menjanjikan manisnya buah kemenangan. Tapi sejak dulu, yang dipersembahkan hanyalah buah busuk sisa gigitan mereka. Penyakit di desa ini memang begitu, mereka selalu saja tidak sadar telah dibodohi karena begitu hormat dan percaya pada pemimpin mereka.
Dengan pengalaman kepemimpinan yang selalu tidak sehat. Warga masih saja berharap dan berdoa untuk mereka yang mampu memberi amplop lebih besar. Seperti hari ini. Ada empat calon yang berkampanye. Menyebarkan seribu, sejuta, semiliyar janji manis. Serta yang paling manis lagi, mereka menyebarkan amplop-amplop pada setiap warga. Sampai tiba waktu pencoblosan dan akhirnya diumumkan pemenangnya. Inilah yang terjadi.
Dari hasil pemilihan. Pasangan nomor satu mendapat 259 suara. Pasangan nomor 2 mendapat 450 suara. Pasangan nomor 3 mendapat 666 suara. Dan pasangan nomor 4 mendapat 3387 suara. Jadi, yang akan menjadi Kepala Desa Tambaklusi adalah pasangan nomor 4. Selamat Pak Parmio sebagai Kepala Desa dan Pak Sigio sebagai Wakil Kepala Desa.
Kepala Desa Tambaklusi yang baru, kali ini mengenakan seragam putih dengan tatanan ramput disempongkan ke arah kiri. Dengan gagahnya ia maju ke atas panggung memberi sambutan. Ucapan terima kasih terlontar pada seluruh warga desa. Di sini ia kembali menekan janji-janjinya. Ribuan orang-orang desa yang hadir dengan pakaian seadanya pula riang gembira. Seakan-akan nasib mereka akan segera berubah makmur sejahtera.
***
Terlahir menjadi anak juragan memang sangat menguntungkan. Berwibawa, dihormati, dan yang pasti banyak uangnya. Aku sejak kecil hidup berkecukupan tapi tidak berlebihan. Orang tuaku selalu mengajarkan hidup hemat. Sampai akhirnya aku menerapkan itu semua sampai aku lulus SMA. Aku bersekolah di kota. Saat lulus aku kembali ke desa dengan cita-cita ingin merubah tatanan desa ini. Saat aku pulang dan sampai di desa, semua ramai menyambutku. Orang tuaku mengadakan pesta besar-besaran di rumah. Para gadis pula ikut diundang. Mereka gadis desa yang sederhana, lugu, dan begitulah layaknya gadis desa. Beda halnya dengan gadis kota yang sering aku lihat. Cantik, menarik, pintar, dan yang pasti tidak membosankan.
"Kamu mau menikah dengan siapa? Sudah Ayah pilihkan gadis-gadis cantik di desa ini," ujar Ayahnya sambil merangkul pundakku.
"Ayah. Aku belum mau menikah. Aku ingin menjadi kepala desa terlebih dahulu," bisikku ke telinga Ayah.
"Boleh saja. Itu sangat bagus. Tapi sebelum itu kamu harus menikah. Ini sudah menjadi adat. Setiap orang yang akan mencalonkan diri sebagai kepala desa harus sudah menikah."
Aku menggukan diri. Apa boleh buat. Aku pun kembali merayakan pesta dengan dikelilingi gadis yang Ayah kirim. Esok harinya, aku mulai melakukan pendekatan. Menjadi petani, nelayan, dan penggembala. Mencoba merasakan penderitaan warga sebelum aku mengentaskan penderitaan mereka.
Sampai pada saat itu, aku sedang membajak sawah. Aku melihat ada gadis sedang menanam padi. Ia mengenakan kemben berwarna cokelat yang serasi dengan jarit hitam yang dikenakannya. Kosentrasiku pudar. Aku berhenti membajak dan mendekati gadis itu.
"Permisi Neng.”
"Iya Mas. Ada apa yah?"
"Oalah Ratri. Aku kira siapa, ujarnya sambil memegang kepalanya karena heran."
"Iya Mas, ndak pernah main ke rumah saya sih Masnya. Jadinya heran. Sibuk terus kamu di kota yah?" jawab Ratri sambil melepas tudung yang dikenakannya.
"Iya Ratri. Bolehkah nanti kita pulang barsama? Sekalian aku mau berkunjung ke rumahmu."
Ratri mengangguk dan tersenyum sambil memakai kembali tudungnya. Setelah semua benih tertanam, Ratri mengambil krendeng tempat ia menyimpan minuman dan makanan untuk dibawanya kembali pulang. Ia pulang bersamaku. Banyak percakapan di sini. Terutama cerita lampau di waktu SD. Di mana Ratri adalah anak paling cantik di kelas dan aku anak paling pandai di kelas. Jujur, sejak SD aku sudah mencintainya. Setelah lulus dan melanjutkan SMP sampai SMA, baru kali ini aku bertemu Ratri lagi. Ratri masih saja cantik. Ia gadis berkulit kuning langsat, matanya besar, bibirnya tebal, dan ia memiliki lesung pipi yang menambah manis wajah cantiknya.
Tidak terasa pula kami sampai di rumahnya. Di halaman rumah, Ayahnya sedang sibuk memotong kayu. Sedangkan Ibunya sibuk memotong sayur. Aku pun mampir sebentar. Bersalaman dengan kedua orang tuanya. Bercerita sedikit tentang perkotaan sembari menikmati hidangan yang disuguhkan Ratri. Saat itu pula saya memberanikan diri.
"Pak, Bu, bolehkan saya melamar Ratri? Jikalau boleh, saya akan segera melamarnya dua hari lagi."
"Kamu serius?"
"Iya Pak. Saya benar-benar serius."
"Bapak dan Ibu pasrah saja pada Ratri. Karena dia yang akan menjalaninya."
"Bagaimana Ratri? Maukah kamu jadi istriku?"
Layaknya gadis perawan, Ratri hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum dengan manisnya. Itu pertanda bahwa ia mau dilamar olehku. Setelah itu keluargaku sibuk mempersiapkan acara lamaran. Seminggu setelah lamaran kami menikah. Acara pernikahan kami diadakan selama seminggu penuh. Pergelaran budaya seperti Wayang Kulit, Wayang Golek, Kuda Lumping, Sintren, Lenong, dan Calung Jinjing kami gelar untuk para warga desa. Semuanya bahagia, begitu pula aku yang sebentar lagi akan mengurus segala persyaratan untuk menjadi calon kepala desa tahun ini.
***
"Permisi Pak Lurah, saya mau minta tanda tangan bapak untuk persyaratan hutang di Bank. Mohon berkas ini di tanda tangani."
"Ini sudah, menyerahkan berkasnya kembali."
"Terima kasih Pak Lurah," bersalaman sambil menyelipkan amplop di tangannya.
Di sini kepala desa tidaklah dipanggil Kades melainkan Lurah. Itu cukup wajar untuk pedesaan. Apalagi praktek tanda tangan tersebut. Bukan hanya untuk hutang Bank saja, tapi masih banyak lagi seperti perizinan usaha, perizinan hajatan, perizinan pergelaran, dan lain sebagainya. Beliau tidak mematok tarif di setiap tanda tangannya. Tapi, setiap warga sudah paham akan biaya yang pantas.
Kala itu, ada warga baru datang. Ia berkunjung ke balai desa untuk mengurus KTPnya. Ia hendak mengubah KTP-nya yang dulu berdomisili di kota menjadi di Desa Tambaklusi. Karena tidak tahu, ia meminta tanda tangan Pak Lurah begitu saja tanpa ada amplop setelahnya. Ia langsung ke kecamatan untuk mengurus KTP tahap selanjutnya. Tentu hal itu tidak lumrah. Istri Lurah tersebut ramai membicarakan pemuda itu. Pemuda kota yang tidak tahu diri ujarnya. Meminta tanda tangan seorang Lurah tanpa ada imbalan. Ramai sudah Desa Tambaklusi dibuatnya.
"Pemuda Kota itu tidak membayar uang imbalan. Tega sekali dia. Benar-benar tidak tahu diri. Seharusnya dia tidak tinggal di desa ini. Apa kita usir saja yah?"
Saat itu pemuda kota tersebut sedang berjalan melewati kerumunan dan tidak sengaja mendengar percakapan kerumunan Ibu-Ibu tersebut.
"Maaf. Kepala desa ditugaskan untuk melayani warganya. Mereka juga sudah digaji oleh Negara. Jadi, sebagai warga kita tidak perlu membayar apapun diluar aturan yang sudah ada. Itu termasuk pungutan liar Bu."
"Pungutan liar? Kamu itu anak muda. Tahu apa kamu? Dasar. Mentang-mentang anak kota," ujar Ratri.
"Saya lulusan Sarjana Hukum. Saya ditugaskan di sini untuk mengawasi pemerintahan daerah. Termasuk mengawasi desa ini. Jadi, mohon kerjasamanya. Memangnya betul bu, setiap ada warga yang meminta tanda tangan kepala desa harus ada uang imbalan?"
Gerombolan Ibu-Ibu seketika pergi meninggalkan pertanyaan pemuda kota itu. Ratri sekarang wajahnya pucat pasi. Ia begitu khawatir akan nasib suaminya. Ia segera pulang dan membicarakan hal tersebut pada suaminya.
“Mas, Mas. Ada berita penting. Pemuda kota itu, pemuda kota itu Mas.”
“Daniel? Ada apa dengan dia? Dia tidak mau membayar uang imbalan?”
"Dia sarjana hukum Mas. Dia utusan pemerintah pusat yang ditugaskan mengawasi pemerintah daerah. Termasuk desa ini Mas.”
"Yang benar saja kamu Ratri. Kalau begitu hancur sudah kita," wajah Parmio seketika berubah memucat pula seperti Ratri, keringatnya mengucur deras, dan tangannya langsung memegang kepala yang mendadak sakit.
Di awal masa jabatannya selama setahun, dia adalah pemimpin yang begitu baik. Dia tidak pernah melakukan pungutan apa-apa pada warganya. Namun, wakilnya Sugio mencoba mencuci otaknya.
"Pak Lurah, kamu itu lulusan dari kota. Tapi tingkat kecerdasanmu masih di bawah rata-rata. Mencalonkan diri menjadi Lurah sudah menghabiskan uang jutaan. Tapi kamu tidak sama sekali berfikir untuk mengembalikan uang itu? Parmio, Parmio."
Karena itu, sejak tahun kedua praktek uang imbalan itu berjalan. Pemasukannya setiap hari bertambah. Belum lagi ada usaha-usaha ilegal yang berdiri di pelabuhan. Sungguh menguntungkan baginya. Tapi itu semua kini berakhir. Saat ada orang yang mengetuk pintu rumahnya begitu keras, sampai-sampai ia tak berani membukanya. Jadi, istrinya yang mengalah membukakan pintu. Dan saat pintunya dibuka, ia terperangah melihat ada Daniel dan dua orang berseragam polisi lengkap dengan borgol dan pistol. Mereka tengah berdiri tepat di depannya.
Tentang Penulis

