Cerpen: Nanda Kun

 

KOTA PECINAN

Oleh: Nanda Kun

Senja membungkus langit kota, sisa-sisa hujan tergenang di jalan yang mulai berlubang, udara lembab membaur menjadi satu dengan udara kotor kota.

Naya masih riang menyusuri trotoar kota, dia Nayakahiyang. Gadis   yang begitu periang, cantik dan redup pandangannya. Baginya kenangan selalu menjadi hal indah, ruko-ruko yang berjajar memberikan kesan kuat kenangan diingatannya. Naya tetap riang menatap aktivitas padat perkotaan, baginya ini pemandangan indah, walaupun banyak orang mengaggap perkotaan adalah sesuatu yang rupek, panas dan kotor. Namun, bagi Naya inilah keindahan, karena setengah kenangan hidupnya ada di sini.

Pecinan, tempat favorit Naya untuk bernostalgia. Sebuah perkampungan Tionghoa yang terbesar di kota, dengan deretan pertokoan yang sebagian besar milik masyarakat China.  Naya masih tetap melangkahkan kakinya dengan riang, memandang penuh bahagia sekitar. Hampir semua penjual makanan keliling, tukang becak yang selalu berhenti di atas trotoar, Ko koh China yang menjaga toko, terlihat riang menyapa Naya. Naya yang begitu ramah memberikan senyum terbaiknya.

Langkah Naya terhenti, berdiri tegap menatap sebuah toko yang usang, dengan palang nama toko yang sudah karatan dimakan usia, “Huang Fu.” nama toko yang tertulis di atas palang itu. Naya menatap nanar sekitarnya, kenangan terindahnya ada di sini. Toko ini dulunya menjual berbagai lampu hias. Sejak SMP, Naya suka mengoleksi berbagai model dan bentuk lampu hias, sepulang sekolah Naya pasti menyempatkan untuk berkunjung ke toko ini, walaupun hanya sekedar melihat kerlap-kerlip lampu hias yang dipajang.

Nuansa toko begitu indah, dengan tulisan mandarin dan hiasan berwarna merah yang menyala, menjelang imlek pasti semua toko Pecinan yang ada di kota ini akan terlihat indah. Naya berjalan menyusuri sudut-sudut toko yang dipenuhi lampu hias berbagai bentuk dan ukuran, hatinya terasa bahagia memandangi siluet warna-warni, hingga matanya tertuju pada suatu benda berwarna emas, tangan benda itu bergerak naik turun.

“Apakah ini lampu hias berbentuk kucing, tapi kenapa tidak menyala?” Naya bergumam.

“Itu namanya kucing Maneki Neko.” suara yang datang sontak membuat Naya kaget. Pemuda berwajah oriental sudah berdiri di sampingnya.

“Eh, maaf Koh,” Naya tertunduk malu.

“Jangan panggil aku Ko koh. Namaku, Chen,” pemuda itu mengulurkan tangannya, tersenyum begitu manis dengan mata yang nyaris hanya terlihat seperti garis.

Naya membalas tangannya, “Aku Naya, Nayakahiyang,” mata besarnya yang indah mengerjap-ngerjap.

Chen Huang Fu, laki-laki berwajah oriental dengan gesture tubuh tinggi dan gagah, rahangnya terlihat kokoh, dengan senyum manis yang selalu tercipta di wajahnya. Chen adalah laki-laki yang memulai semua kisah ini, laki-laki yang memberikan kerinduan besar di hati Naya. Itu adalah pertemuan pertama mereka, di toko lampu hias milik ayah Chen, Lie Huang Fu, yang menikah dengan wanita pribumi. Ratnasari.

“Lalu apa fungsi kucing ini, Chen?,” Naya penasaran.

Chen tertawa mendengar itu, “Menurut kepercayaan China, kucing Maneki Neko ini membawa keberuntungan dan rezeki bagi pemilik toko atau pun restoran yang memajang kucing ini.”

Naya mangut-mangut mendengarkan, “Kok bisa gitu, gimana ceritanya patung kucing membawa rezeki?”.

Chen tersenyum memandang wajah Naya yang terlihat polos, “Aku tidak terlalu percaya akan hal itu, patung itu hanya perlambangan,” Chen menatap langit-langit toko, seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Ada banyak legenda Maneki Neko, tapi yang sering di ceritakan Mama kepadaku adalah Maneki Neko merupakan patung penghormatan bagi kucing yang menyelamatkan seorang samurai”.

Naya mendekatkan kupingnya, dia serius sekali ingin mendengar cerita itu, membuat Chen terkekeh melihat ekspresi Naya.

“Baiklah Nay, aku akan menceritakannya kepadamu. Kisah ini bermula ketika seorang samurai berteduh di bawah pohon karena hujan badai, kemudian sang samurai melihat seekor kucing yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya berulang kali. Sang samurai akhirnya menghampiri kucing tersebut masuk ke dalam sebuah kuil tua dan benar saja sesaat setelah menghampiri kucing tersebut, pohon tempat sang samurai disambar petir.”

Naya terus menyimak..

“Sejak kejadian itu sang samurai percaya, bahwa kuil tua dan kucing yang bernama Tama membawa keberuntungan, dan masyarakat ramai mengunjungi kuil tersebut untuk meminta keberuntungan. Ketika Tama mati, Tama dikuburkan secara terhormat dan sang pendeta membuat patung kucing sebagai penghormatan bagi Tama.”

Mata besar Naya mengerjap-erjap, layaknya anak kecil yang diberikan dongeng sebelum tidur.

“Cerita yang indah Chen, tapi kenapa warna Maneki Neko berwarna emas?”.

Chen bersiap-siap untuk memulai ceritanya kembali, “Bukan hanya warna emas saja Nay, Maneki Neko mempunyai enam warna dan memiliki makna yang berbeda.”

“Enam warna?”, Naya semakin antusias.

Chen mengangguk, “Ada warna emas seperti yang kamu lihat ini,” Chen menunjuk patung kucing yang berada di dalam etalase.

“Warna emas mempunyai arti kekayaan dan kemakmuran, ada juga warna calico atau belang-belang berarti keberuntungan, berwarna putih artinya kebahagiaan, warna merah berarti hubungan percintaan yang bahagia, warna hijau berarti meminta kesehatan, dan warna hitam artinya proteksi dari aura negatif.”

Naya mangut-mangut, “Aku tidak suka warna yang terakhir Chen,” Naya menggeleng-gelengkan kepalanya. Chen hanya tersenyum dan menatap gadis di depannya, Naya yang begitu lugu.

“Lantas kamu percaya itu semua Chen?”, Naya bertanya penasaran, membuyarkan lamunan laki-laki dihadapannya.

Chen menggeleng pelan, “Tidak, Maneki Neko hanya sebuah perlambangan, hanya doa dan usaha kepada Tuhan yang memberikan kita rezeki dan keberuntungan, Nay,” Chen kembali tersenyum. Naya membalasnya dengan senyum terbaiknya juga, terlihat begitu manis dengan sepasang lesung pipi di wajahnya.

Itu adalah pertemuan pertama mereka, di toko keluarga Chen. Mereka langsung akrab dan menjadi sahabat baik. Menyusuri setiap jengkal kota bersama, masuk dalam SMA yang sama. Tanpa mereka sadari rasa itu tumbuh dengan lebat di dalam hati mereka, persahabatan yang mereka jalin membuahkan sebuah perasaan yang menjelma menjadi cinta.

Naya masih terduduk di depan toko milik keluarga Chen dulu, menatap nanar kendaraan yang melintas di depannya, penjual siomay keliling yang menawarkan jajanannya, tukang becak yang menawarkan tumpangan, semua itu membuka kembali kenangan Naya bersama Chen. Mereka selalu melakukan semua itu bersama, duduk di bangku semen trotoar melihat kendaraan yang melintas, membeli siomay, menyusuri kota Pecinan menggunakan becak, semua itu membuka ingatan Naya.

Naya termangu, memandang kosong semua aktivitas di hadapannya. Semburat senja memasuki celah-celah gedung kota, begitu indah. Namun, menyayat hati, Naya teringat pertemuan terakhirnya bersama Chen, menyusuri alun-alun kota dan singgah di pelataran Klenteng tempat beribadah bagi orang-orang yang beragama Khonghuchu. Letak Klenteng tidak terlalu jauh dari alun-alun kota dan Pecinan, hanya berseberangan, nuansa merah dengan lampion-lampion merah yang menghiasi gerbang masuk serta bunga-bunga sakura sintetik yang menghiasi pintu depan klenteng, patung-patung naga yang terlihat megah, memberi kesan tersendiri. 

“Aku ingin masuk ke dalamnya, Chen,” Naya menunjuk aula klenteng yang terlihat sepi.

“Tidak boleh Naya, kita cuman bisa duduk di pelatarannya,” Chen melahap kebab di tangannya.

“Ceritakan kepadaku Chen, ada apa saja di dalam?”, Naya juga melahap kebab di tangannya.

Chen menggeleng, “Mungkin ada patung,” melahap kebabnya sekali lagi.

Naya menoleh ke arah Chen, terlihat bingung tentang jawaban Chen. “Bukanya kamu sering beribadah di sini?”

Chen tersenyum sambil mengacak-acak rambut Naya, “Aku hanya bermain-main di sini, aku selalu beribadah di sana,”Chen menunjuk masjid agung di seberang jalan, masjid yang begitu megah dengan ukiran kaligrafi bewarna emas yang mencolok.

Naya hampir tersedak liurnya sendiri, “Kamu muslim?” mata besar Naya membulat.

Chen mengangguk mantap, “Papa adalah seorang mualaf, sebelum menikah dengan Mama, Papa sudah masuk agama islam. Jadi, aku dan Papa selalu beribadah di masjid itu, Nay,” Chen melahap habis kebabnya, Naya tertawa, bahkan dia tidak tahu tentang sahabatnya sendiri.

“Maafkan aku Chen, aku tidak tahu soal itu,” Chen mengangguk, tersenyum memandang Naya yang begitu lugu.

“Sebentar lagi kita lulus SMA, Chen,” Naya menatap kosong ke depan, Chen menganggukkan kepalanya samar.

“Kamu mau kuliah di mana Chen?” tanya Naya.

Chen menghela nafasnya dalam, “Aku sudah mendapat beasiswa, Nay.”

“Oh ya, hebat dong! Selamat ya!” Naya terlihat begitu bahagia. Namun, ada yang aneh dengan Chen, dia tampak murung, menatap kosong sekitarnya.

“Aku akan kuliah di Beijing, Nay. Aku akan pulang ke China, ikut Papa dan Mama membangun usaha baru di sana,” Chen menundukkan kepalanya, tidak berani menatap gadis di sebelahnya.

Naya terdiam, seketika ekspresi wajahnya yang riang berubah menjadi murung.

“Kamu tidak bohong kan, Chen?” sudut mata Naya mulai berair.

“Aku serius, Nay. Maafkan aku, kita harus berpisah,”Chen masih menunduk.

Naya sudah menangis, mengelap airmata dengan tangannya. “Kamu akan kembali kan, Chen? Kamu akan kembali ke sini kan?”, Naya mengelap sudut matanya yang basah.

Chen mengangkat kepalanya, Chen tahu Naya sedang menangis, Chen tidak tega melihatnya.

“Aku pasti akan kembali, Nay. Kita akan menyusuri setiap sudut kota bersama lagi, aku janji!” Chen memaksa tersenyum, walaupun di hatinya tidak. Naya tersenyum simpul, kembali mengusap sisa airmatanya.

Chen mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak kecil dengan hiasan pita berwarna merah yang indah.

“Ini untukmu, Nay,” Chen memberikan hadiah kecil itu kepada Naya.

“Apa ini?” Naya membuka kotak kecil itu, di dalamnya terdapat sebuah miniatur Maneki Neko berwarna merah yang indah, Chen membuatnya dari clay.

“Maneki Neko? Indah sekali, terima kasih Chen,” mata indah Naya kembali mengerjap-erjap.

“Kamu tahu kan, makna Maneki Neko berwarna merah?”.

Naya menatap Chen, “Percintaan yang bahagia?”.

Chen mengangguk, “Aku mencintaimu, Nay. Tapi maaf jika kita harus berpisah.”

Hati Naya terasa tersentak, Naya juga mencintai Chen. Naya tersenyum, “Terima kasih, Chen. Aku akan selalu merindukanmu.”

Naya masih duduk termangu, air matanya perlahan membanjiri pipi. Naya menggenggam miniatur Maneki Neko pemberian Chen, kenangan terakhir bersamanya.

Lima tahun sudah berlalu. Namun, kerinduan Naya terhadap Chen bertambah begitu besar, Naya akan selalu menunggu, biarkan rindunya menjemput Chen kemari, kembali di hadapannya lagi, menyusuri sudut kota bersama lagi.

Naya juga kuliah di universitas kotanya, mengambil jurusan ilmu komunikasi, langkah Naya untuk mengejar cita-citanya sebagai presenter dan wartawan.

Langit kota sudah mulai gelap, beberapa toko juga sudah mulai tutup, Naya beranjak dari tempat duduknya. Menggenggam kenangan tempat itu, Naya memandang toko di depannya, tempat ini adalah kenangan terindahnya bersama Chen, laki-laki yang Naya amat rindukan.

Naya sudah melangkah meninggalkan tempat kenangannya, sebelum matahari benar-benar tenggelam.

“Nayaaa!!”. Suara itu menghentikan langkah Naya, Naya menoleh ke belakang.

Naya terpaku, semua aktivitas kota seakan berhenti, hanya ada Naya dan laki-laki jakung yang berdiri di depannya. Chen, Chen telah kembali, kerinduan Naya berhasil menjemputnya.

“Ch… Cheeen?”. Laki-laki itu berdiri tegap dengan senyum melengkung di wajahnya, hingga matanya terlihat nyaris seperti garis.

“Aku kembali, Nay. Aku merindukanmu.” Chen masih tersenyum.

Tangis bahagia Naya buncah, inilah balasan penantiannya, setiap waktu menahan rindu, mengenang semua kenangannya. Naya berlari, memeluk Chen dengan begitu erat.

“Jangan pergi lagi Chen, aku sangat merindukanmu” Chen membalas pelukan Naya, melepaskannya perlahan. Mengusap air mata bahagia Naya, menggenggam erat tangan Naya.

“Aku kembali untukmu, Nay. Kita akan tetap bersama, sampai kapan pun.” Chen menatap dalam mata indah Naya.

“Aku akan membuka usaha di kota ini, Nay. Bersamamu.” genggaman tangan mereka semakin erat, kini tidak akan ada yang memisahkan mereka kembali.

 


Tentang Penulis

Nanda Kun, nama kecil dari namanya yang begitu panjang. Ia lahir di Magelang dan tumbuh besar di sana. Dilahirkan pada bulan kemerdekaan tahun 2001. Lulusan multimedia namun tertarik pada dunia pendidikan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.