Yeni Maulidah
Ukiran Kayu
Kulihat wajah ibu dalam ukiran kayu
yang sedang duduk termangu menatap langit desa
“Apakah sampai kiranya lewat angin Jakarta?”
yang begitu nakal dan gersang
Menembus tubuh bayi kecilnya
Sebelum ia benar-benar menjadi manusia
yang sedang duduk termangu menatap langit desa
“Apakah sampai kiranya lewat angin Jakarta?”
yang begitu nakal dan gersang
Menembus tubuh bayi kecilnya
Sebelum ia benar-benar menjadi manusia
Kulihat wajah ibu dalam ukiran kayu
Yang sudah lama tak kusentuh
Lekuk tubuhnya, mengendus aromanya
“Apakah sudah berbeda?”
Setelah aku benar-benar menjadi manusia
Yang sudah lama tak kusentuh
Lekuk tubuhnya, mengendus aromanya
“Apakah sudah berbeda?”
Setelah aku benar-benar menjadi manusia
Cirebon, 2 Juli 2021
Ahmad Rizki
Sajak 23
Demi arwah yang ganjil.
Demi perang yang panjang.
Demi perang yang panjang.
Kitab-kitab tercecer
Dan orang-orang sibuk mendengarkan ilusi.
Dan orang-orang sibuk mendengarkan ilusi.
Demi hikayat nabi.
Demi malam yang terang.
Demi malam yang terang.
23 hari dilewatkan api
Dan orang-orang berjalan menyusuri janji.
Dan orang-orang berjalan menyusuri janji.
Akankah fitri memeluk tubuh ini?
Dan apakah cahaya akan memancar ke penjuru jiwa-jiwa?
Dan apakah cahaya akan memancar ke penjuru jiwa-jiwa?
Demi semangat badar.
Demi siasat Hudaibiyah.
Demi siasat Hudaibiyah.
Perjalanan zaman yang unik
memaksa cinta disebarkan
memaksa cinta disebarkan
Dan puing-puing kebenaran ditancap ke dalam keberanian.
Demi 23 Ramadan.
Demi kota suci.
Demi kota suci.
Waktu-waktu adalah kita
yang dieja kemungkinan
Dan ketika momentum kembali
Orang-orang berlari-lari menuju ilahi.
yang dieja kemungkinan
Dan ketika momentum kembali
Orang-orang berlari-lari menuju ilahi.
Demi puisi.
Demi air mata.
23 adalah penantian pagi buta.
Demi air mata.
23 adalah penantian pagi buta.
Ciputat, 1442 H
Tentang Penulis
Yeni Maulidah, lahir di Cirebon, 10 Mei 2004. Seorang pelajar di SMAN 1 Dukupuntang ini hobi menulis karya fiksi dan nonfiksi. Buku solo pertamanya Seni Menanggapi Peristiwa (2021). Beberapa karyanya diterbitkan dalam buku antologi, media massa, dan surat kabar. Bisa disapa melalui Instagram: @yeniem_10.
Ahmad Rizki, penikmat fajar dan ikan-ikan kecil ini tinggal di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten. Dapat dihubungi melalui Instagram: @ah_rzkiii.

