Esai D. Darma K

 

Kekuatan Dialog Imajinatif dalam Belajar dan Menemukan

Oleh: D. Darma K

 


Suatu hari, lebih dari 10 tahun lalu, saya menerima email dari seorang Profesor sebuah universitas terkemuka di korea selatan. Isinya cukup membuat saya panik, Sang Profesor memerintahkan saya segera mempersiapkan diri untuk berangkat menuju Laboratoriumnya. Dalam waktu kurang dari 14 hari saya harus mempersiapkan keberangkatan ini.

Saya segera berkutat dengan segala urusan yang terkait dengan visa. Alhamdulillah semua berlangsung dalam suasana Ramadhan sehingga ada energi luar biasa untuk mengurus semua itu. Visa bukanlah masalah yang rumit, Korea Selatan sangat menghormati tamunya. Saya segera diberi visa sesuai status saya sebagai Peneliti Tamu yang akan menyusun  disertasinya.

Masalah yang rumit adalah saya harus menguasai salah satu pekerjaan teknis laboratorium level tinggi. Berdasarkan penelusuran informasi yang saya lakukan, pekerjaan teknis laboratorium ini tidak pernah digunakan di Indonesia saat itu. Saya harus jujur pada diri sendiri, saya tidak memiliki pengalaman kerja teknis laboratorium tersebut.

Apa yang harus saya lakukan? sementara waktu tersisa hanya 11 hari lagi. Dengan sisa waktu itu, tidak mungkin rasanya saya memperoleh pengalaman kerja teknis laboratorium tersebut. Apa lagi tidak ada satupun instruktur yang membimbing dan tidak ada fasilitas yang tersedia.

Ahamdulillah, Allah memberi petunjuk dengan membuka ingatan saya tentang Dialog Imajinatif. Eureka!!! inilah solusi yang dapat saya lakukan dalam waktu singkat itu. Saya harus dapat membangun struktur pengalaman kerja teknis laboratorium tersebut dengan mengembangkan Dialog Imajinatif.

Saya segera mengembangkan Dialog Imajinatif bersama beberapa Pakar. Para Pakar ini adalah peneliti yang telah menulis referensi tetang kerja teknis laboratorium tersebut. Dialog Imajinatif melalui karya mereka telah membangun analisis kritis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah saya memiliki. Semua mengalir nyaris tanpa saya sadari. Saya membuat peta pikir, catatan teori dan Standard Operating Procedure (SOP) kerja teknis laboratorium tersebut.

Singkat cerita, saya tiba di Laboratorium Sang Profesor pukul 10.00 pagi pada hari kedua Idul Fitri. Pukul 14.30 saya sudah berhadapan dengan rangkaian kerja teknis laboratorium tersebut. Alhamdulilah, hari itu juga, saya dapat bekerja dengan baik. Hal ini cukup membuat kaget mereka yang diberikan tugas untuk mendampingi saya sore itu.

Pada saat makan malam, salah satu orang kepercayaan Sang Profesor bertanya pada saya, berapa lama saya sudah bekerja dengan rangkaian kerja teknis laboratorium tersebut? Saya menjawab, saya telah bekerja dengan Anda melalui beberapa artikel publikasi Anda. Ya, memang orang kepercayaan Sang Profesor ini adalah salah satu Ilmuan Muda yang karyanya menjadi referensi dalam Dialog Imajinatif saya.

Ilmuan Muda ini tampak begitu merasa dihargai, karena saya dapat memahami secara mendalam tentang pekerjaan ilmiahnya. Selanjutnya saya dengan mudah mendapat akses pengetahuan teknis tersebut secara lebih mendetail. Dialog Imajinatif yang saya bangun ternyata dapat memperkuat relasi di dunia nyata. Hal ini terjadi kerena adanya sikap menghargai pemikiran orang lain melalui analisis kritis karyanya.

Satu bulan berikutnya, Sang Profesor meminta saya untuk membimbing salah seorang mahasiswa program master dalam kerja teknis laboratorium tersebut. Kepercayaan itu masih terus berlanjut untuk berbagai aktivitas laboratorium lainnya. Hal yang sama terulang lagi setiap saya kembali ke Laboratorium tersebut. Tiga tahun berikutnya, di sebuah Universitas di Tanah Air, saya berhasil  mempertahankan disertasi tentang Anti Photoaging dan meraih gelar Doktor.

Dalam pengalaman saya ini, kekuatan Dialog Imajinatif telah menunjukkan keampuhannya . Kekuatan Dialog Imajinatif bukan hanya dapat digunakan dalam menghasilkan karya humaniora, seperti karya sastra. Kekuatan Dialog Imajinatif bahkan dapat membangun dasar pengalaman kerja teknis laboratorium.

Singkatnya, dalam pengalaman saya ini, kekuatan Dialog Imajinatif telah menunjukan manfaatnya dalam proses belajar dan menemukan. Belajar memahami dasar teori kerja teknis laboratorium tersebut. Menemukan gambaran tahapan kerja sehingga mampu menyusun SOP kerja teknis laboratorium tersebut.

Saya ingin keluar sejenak dari pembahasan tentang pengalaman saya membangun  Dialog Imajinatif. Saya ingin mencoba menggali sedikit pengetahuan tentang Dialog Imajinatif. sejak awal perkembangan kita, kekuatan Dialog Imajinatif telah menjadi sarana dalam proses belajar dan menemukan. Melalui permainan, seorang anak seringkali terlihat menggunakan kekuatan Dialog Imajinatif. Kekuatan Dialog Imajinatif telah membawa pengalaman alam bawah sadarnya ke dalam proses belajar dan menemukan hal baru.

Paper  Fang (2017) yang berjudul Imaginative dialogue'as a method of psychoanalytic inquiry, mengungkapkan potensi produktif dialog imajinatif sebagai metode penyelidikan psikoanalitik. Paper tersebut juga menjalaskan bahwa metode dialog imajinatif merupakan upaya artistik yang mempertahankan kedalaman emosional.

Sebagian dari kita telah memahami bahwa pendekatan psikoanalitik  berfokus pada pentingnya pikiran bawah sadar. Perspektif psikoanalitik menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh pengalaman masa lalu yang tertinggal di pikiran bawah sadar.

Kita mungkin harus membuang sedikit kenyaman kita bila memaksa membahas topik pikiran bawah sadar secara mendetil. Sebagai gantinya, Saya menyarankan untuk membaca artikel Cherry (2019) yang berjudul The Preconscious, Conscious and Unconscious Minds. Artikel ini menjelaskan bahwa pikiran bawah sadar adalah perasaan, pikiran, dorongan, dan ingatan yang berada di luar kesadaran kita. Pikiran bawah sadar dapat mencakup perasaan tertekan, ingatan tersembunyi, kebiasaan, pikiran, keinginan, dan reaksi.

Mari kita melihat pikiran bawah sadar sebagai landasan membangun Dialog Imajinatif. Harus disadari bahwa Dialog Imajinatif  adalah bentuk perilaku. Prilaku ini ditentukan oleh pengalaman masa lalu yang tertinggal di pikiran bawah sadar. Tanpa pengalaman yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar maka kekuatan Dialog Imajinatif tidak akan menghasilkan proses belajar dan penemuan.

Banyak karya besar dalam berbagai bidang yang dicetuskan oleh kekuatan Dialog Imajinatif. Pada kebanyakan karya besar tersebut kita dapat melihat bagaimana kekuatan Dialog Imajinatif dapat menghantarkan pemikiran melintasi dimensi  ruang dan waktu.

Saya ingin kembali lagi pada pembahasan tentang pengalaman saya membangun Dialog Imajinatif. Pada akhirnya kekuatan Dialog Imajinatif ini juga yang membuat saya menghentikan langkah menjadi seorang Ahli Kimia Kosmetik komersial. kekuatan Dialog Imajinatif menghantarkan saya untuk belajar mengutamakan kemanusiaan dibandingkan nilai komersial.

Kekuatan Dialog Imajinatif" pada dasarnya adalah salah satu kemampuan berpikir manusia yang mempertemukan pengalaman dengan penemuan baru.  Penemuan baru yang terindah adalah ketika kita menemukan nilai kemanusian yang hakiki. Kembangkan dan gunakan kekuatan Dialog Imajinatif  untuk belajar menemukan nilai kemanusian yang hakiki, sehingga karya kita menjadi bermakna.



Tentang Penulis



D. Darma K., lahir di Curup 2 Juli 1971, menghabiskan masa kecil di Muara Aman. Menamatkan pendidikan SD hingga SMA di Bengkulu. Menyelesaikan S1 di bidang Kimia dan S2 di bidang Kimia Organik. Mempelajari Ilmu Faal dan Khasiat Obat sebagai pilihan pendidikan selanjutnya. Kini, bermukim dan menjadi warga Kota Kupang sambil mengabdi sebagai pengajar dan menekuni Kimia Kosmetik sebagai bidang keahlian khusus. Menulis puisi sebagai tempat merenung dan berpikir, bahkan terkadang menjadikan puisi sebagai sarana merekam hasil analisis jejak peristiwa.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.