Puisi, Kartosoewirjo dan Warna-Warna yang Lain
“Perjuangan ini hanya akan ada
ketika seratus tahun berlalu.”
- Kartosoewirjo.
Identitas
Buku:
Judul Buku : Kematian Kecil Katrosoewirjo
Penulis : Triyanto Triwikromo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2015
ISBN : 978-602-1263-7
Nama
Kartosoewirjo sosok begitu asing
bagi saya (mungkin sosok tinggi besar, kuat, keras, bahkan menakutkan). Kartosoewirjo
merupakan sosok kontroversi yang ditelan ragam peristiwa dan keadaan zaman. Rocky
Gerung (dalam tayangan IlC tahun 2019)
menyatakan bahwa bangsa yang besar, baginya, adalah yang mengenal atau
bahkan mengetahui nama-nama pengkhianatnya. Pengkhianat merupakan sesuatu sosok
atau apapun yang dianggap berlawanan terhadap kepentingan yang konvensional.
Misalnya dalam hal ini ialah Kartosoewirjo.
Menilik isi buku Kematian kecil Kartosoewijo (2015) merupakan cara lain
melihat tokoh kontroversi. Pengarang dengan sengaja mengajak (pembaca) mengenang
sejarah lewat cara yang rumit secara fakta, memutari dilematik identitas (pejuang
atau pemberontak), dan memerlihatkan keseriusan Kartosoewirjo sebagai sosok
yang ikut serta membangun keberagaman ideologi di Indonesia.
Buku setebal 128 halaman ini terdiri dari 52 puisi yang berisi tentang detik-detik kematian Kartosoewirjo. Beliau merupakan sosok Imam Darul Islam yang diduga melakukan upaya pembunuhan kepada Soekarno sebanyak enam kali. Selain itu, buku ini juga membicarakan Pulau Ubi (tempat penembakan Kartosoewirjo), masa kepemimpinan Soekarno, serdadu penembak, dan warna lain sosok Kartosoewirjo; sikap tegas dan kegigihan memperjuangkan cita-citanya, hingga eksekusi hukuman matinya.
Dalam kumpulan puisi tersebut, Triyanto seraya menangkap keadaan jiwa Kartosoewirjo. Dikisahkan pandangan-pandangan beliau tentang Islam Kaffah, yang menggunakan dasar “syariat Islam”. Pandangan ini memaksa beliau akhirnya melakukan sikap ketidaksetujuan terhadap Republik Indonesia, hingga dianggap sebagai pemberontak Presiden Soekarno.
Sikap radikal beliau sudah dilaksanakan
ketika masih muda saat menjadi pimpinan
redakasi koran harian Fadjar Asia dan beliau rutin menulis
ketidaksetujuan terhadap kaum bangsawan ataupun kolonial Belanda. Sementara
itu, Kartosoewirjo juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal PSII (Partai Serikat
Islam Indonesia), dan dikenal dengan “politik hijrah” (ketidaksetujuan bekerja
sama dengan Pemerintah Hindia Belanda). Beliau juga menjadi pelaku sejarah
“Sumpah Pemuda” bersama tokoh-tokoh bangsa lannya. Kartosoewirjo pernah
memimpin dua laskar (Hisbullah dan Fisabilillah) yaitu perjuangan di Jawa Barat
saat perang kemerdekaan (1945-1949), dan masih banyak warna-warni yang mewarnai
kehidupan tokoh ini.
Kumpulan puisi ini secara sederhana
diprasangkai sebagai sejarah liris, yang bagi saya mengungkap tabir ketidakterbukaan
dokumen sejarah. Ketidakterbukaan itu dimulai dengan sub-bab Awal—Antara—Akhir—yang dimulai dengan Ara Suhara (Seorang
yang dianggap sebagai penakluk Kartosoewirjo), Si Oditur, dan Regu Tembak.
Selain itu, plot Flashback yang
digunakan memberikan kesan yang luas terhadap negara ideal, Soekarno, dan
Tjokroaminoto sebagai sebuah sirkulasi yang tak dapat dipisahkan dengan
perbedaan sikap di antara satu sama lain.
Membaca buku Kematian Kecil Kartosoewirjo merupakan upaya melihat warna baru antara benar-salah, baik-buruk,
pahlawan-penghianat dalam sosok Kartosoewirjo yang tidak kaku, dan sebagai
manusia orisinil yang mempunyai sikap dan cita-cita yang besar.
Akhir kata, Kartosoewirjo adalah
sosok yang mungkin dapat menjadi inspirasi bagi menumbuhkan ide-ide besar, yaitu
sikap non-koperatif yang menjadi panduan perjalanan, dan sikap pantang menyerah
dalam merealisasikan semua yang dipercaya. Pengupayaan kisah balik kehidupan
Kartosoewirjo dalam kumpulan puisi ini, bagi saya, bagaikan perang besar antara
Pandawa dan Kurawa: Soekarno (Pandawa) mampu memesona masyarakat Indonesia
sedangkan Kartosoewirjo (Kurawa) tertangkap dan diesekusi mati.
Tentang Penulis
Ahmad
Rizki. Tukang bikin Kopi di Buletin Sastra @Kasua.pos. Penulis kumpulan puisi Sisa-sisa Kesemrawutan (2020). Dapat
dijumpai di Instragram @ah_rzkiii.


Thanks, Kosana.
BalasHapus