Olo
Olo-olo
nimmu gabus do sude*
kubakar suratmu dalam dingin,
amarahku telah lama kawin dengan ingin,
sebab tak ada yang kutunggu selain waktu
yang bosan melulu.
segala cinta yang kaukecupkan ke keningku,
kini kering dan mudah saja dimusnahkan api.
abu-abu dustamu kini jadi biji atom hitam.
meledak, menolak segala ketiadaan selain dendam.
dendang Ucok Sumbara di telingaku makin menggila.
kewarasan ini adalah kesendirian paling duri.
Kubang Raya, 23 Juli 2021
*Sebaris lirik lagu Ucok Sumbara
Tahun-tahun Kenangan yang Tak Usai
1988 saat kebun durian kelilingi kubur ayahku,
bila musim, durian itu jatuh ke kuburan ayahku,
bila malam kuburan itu benar-benar mati,
hanya durian yang meyasinkan jejer kuburan
yang tertanam di kepala ibuku.
1994 bayam tumbuh sekeliling rumah, belalang hinggap
gigitinya, ulat gigitinya, aku menggigitinya nyam nyam.
meski sekadar rebusan daun bayam berlubang-lubang.
1995 ibu menikah, aku berteman kesunyiaan dan rumput-rumput
yang diroundap depan rumah. seorang perempuan tua gila
melompat-lompat di atas rumput jepang, yang ditanam kemudian
dimatikan. aku tahu, segala yang ditanam atau segala yang tumbuh
liar di sekitar rumahku dan diroundap ayah tiriku adalah segala
yang ikut gersang dalam dadaku.
1996 adikku lahir di tengah hutan, eh di antara pohon karet
yang sebaiknya ditebang, eh dalam gubuk di tengah ladang
yang sunyi kala gelap dan terang.
masa-masa itu aku mendengar suara azan maghrib dari jauh,
juga mega-mega diisi burung-burung gaduh, serta jiwaku
gemuruh, mengadu pada Tuhan yang cuma diam.
Kubang Raya, 28 Juli 2021
Tentang Penulis
Muhammad
Asqalani eNeSTe. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris
– Universitas Islam Riau (UIR). Duta Baca Riau 2018 ini mempelajari
bahasa Spanyol, Portugis, Esperanto, Italia secara otodidak. Youtuber ‘Dunia Asqa’ ini bisa disapa melalui instagramnya @muhammadasqalanie.


