Cerpen Ramli Lahaping

 


Ancaman Keraguan


Empat belas hari yang lalu, pada balai-balai di sudut kompleks perumahan, aku duduk sambil merenungi nasibku di tengah pandemi virus corona. Pasalnya, aku terpaksa menutup warungku di tengah pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah. Karena itu, aku menjadi sangat khawatir kalau pandemi semakin parah, hingga keadaan perekonomianku semakin memburuk, sedang aku harus menghidupi anak dan istriku.

Tak lama kemudian, Haris, tetanggaku yang merupakan dosen di sebuah kampus negeri, datang menghampiriku dengan raut yang tampak kurang bersemangat. Ia lantas melayangkan senyuman yang singkat, kemudian duduk di sampingku. “Keadaan semakin runyam saja gara-gara pandemi.”

Seketika, aku mendengkus prihatin mendengar keluhannya. “Iya, Pak. Dan sialnya, tak ada yang bisa memastikan kapan keadaan akan kembali seperti dahulu,” tanggapku, sekenanya. "Sekarang, semua jadi bermasalah. Orang-orang tak bisa lagi melakukan aktivitasnya dengan baik.”

Ia lantas mengangguk. Ekspresinya menyiratkan kekecewaan. “Iya, Pak. Sekarang pun, aku masih terus memberikan kuliah secara daring, dan itu jelas-jelas tidak efektif untuk proses pembelajaran.”

Aku balas mengangguk. Merasa sependeritaan. “Saat ini, aku pun kehilangan banyak pembeli karena pembatasan sosial, sehingga aku memilih menutup warungku daripada merugi.”

Ia kemudian mengembuskan napas yang panjang.

Sejenak berselang, dari arah samping, Siran, lelaki berusia lebih dari setengah abad yang bekerja sebagai pemulung, seorang tetanggaku yang tinggal berjarak sembilan rumah dari rumahku, muncul dan menghampiri kami. Ia datang sembari mengenakan masker, sebagaimana penampilannya selalu. Ia termasuk orang yang taat pada protokol kesehatan, sebagaimana yang senantiasa kusaksikan ketika ia bertualang sembari mendorong gerobaknya.

Tetapi kedisiplinan Siran yang hanya tamatan sekolah dasar itu, tidaklah berdasarkan pemahamannya. Kukira, kedisiplinannya itu lahir dari kekhawatirannya kalau-kalau bantuan sosial untuknya dicabut oleh pihak pemerintah. Pasalnya, aparat kelurahan telah menyampaikan bahwa para warga yang lalai atau melanggar protokol kesehatan, akan dipertimbangkan untuk dikeluarkan dari daftar penerima bantuan sosial.

Sikap Siran yang taat buta terhadap protokol kesehatan, jauh berbeda dengan sikapku dan sikap Haris. Kami berdua, tidaklah sekaku Siran dalam menunaikan aturan kesehatan melawan pandemi. Kami hanya menunaikan seperlunya saja. Seperti juga hari itu, kami berdua tidaklah mengenakan masker, sebab kami sama-sama merasa tidak beresiko untuk saling menularkan virus.

Alasan untuk itu tiada lain karena kami bertetangga, dengan jarak hanya lima rumah, sehingga kami sering bercengkerama di waktu luang. Dan setelah kebersamaan demi kebersamaan kami tersebut, kami tidak pernah merasakan gejala terjangkit virus seperti yang kerap diberitakan. Tetapi meski demikian, kami sama-sama tak mau mempermasalahkan kepatuhan keras orang lain terhadap aturan kesehatan, termasuk kepatuhan Siran.

Sikapku yang biasa saja dalam menunaikan protokol kesehatan, bukan berarti aku tidak percaya pada ancaman virus. Aku hanya merasa tidak perlu bersikap berlebihan dalam menyikapi pandemi sepanjang rentang waktu yang tak jelas sampai kapan. Apalagi sebagai seorang tamatan SMA, aku memang hanya menyandarkan keyakinanku pada pendapat orang-orang yang lebih berpendidikan, bahwa kecemasan dan ketakutan yang berlebihan akan menurunkan imunitas tubuh dan meningkatkan risiko terjangkit virus.

“Bagaimana kabar, Pak?” tanyaku, kepada Siran, bermaksud berbasa-basi.

Siran pun tertawa pendek. “Baik-baik saja, Pak.”

“Tetapi aktivitas memulung Bapak masih lancar, kan?” ulikku.

Ia lantas mengangguk pelan. “Tetapi banyak penurunan sih, Pak. Masalahnya, banyak kawasan-kawasan yang tertutup untuk warga luar, sehingga aku tak bisa memulung di kawasan tersebut.” Ia kembali tergelak pendek. “Apalagi, aku takut juga memaksa diri memulung di lingkungan-lingkungan yang tidak aman. Aku takut kena virus, Pak.”

Aku pun tertawa mendengar kepolosannya.

Hingga akhirnya, Haris menimpali, “Jangan terlalu takut pada virus. Kalau kita takut, sampai-sampai kita tidak lagi berusaha untuk mendapatkan penghidupan, bisa-bisa kita mati karena kelaparan.”

Aku dan Siran pun tergelak saja.

“Hati-hati, boleh. Tetapi jangan sampai berlebihan. Apalagi, virus itu sama saja dengan sumber penyakit yang lain,” sambung Haris. “Jadi, asalkan kita hidup sehat sebagaimana mestinya, ya, kita akan selamat. Yang penting kita rajin cici tangan dan membersihkan badan, giat berolahraga, memakan makanan yang sehat, dan senantiasa berpikiran posisif. Ya, sebagaimana cara biasa yang sepatutnya kita lakukan untuk menjaga kesehatan.”

“Tetapi bukankah virus katanya sangat berbahaya dan butuh penanggulangan khusus, Pak? Bukankah virus itu berbeda dengan bakteri dan kuman?” selidik Siran seketika.

Haris sontak mendengkus dan tersenyum simpul. “Tak peduli apa jenis penyebab penyakit itu, yang penting kita menerapkan pola hidup yang sehat, ya, kita pasti baik-baik saja, Pak.”

Aku dan Siran kemudian mengangguk-angguk. Kami seolah sama-sama sadar bahwa Haris adalah seorang yang berilmu atas gelar doktornya, sehingga kami selayaknya sepaham dengannya.

“Aku sih tidak setuju dengan pembatasan sosial dan protokol kesehatan yang sangat ketat dan kaku. Menurutku, itu bisa membuat masyarakat tidak tenang dalam menjalani aktivitas dan pekerjaannya, sehingga mereka stres, dan malah menjadi semakin berisiko untuk terjangkit penyakit,” tutur Haris lagi, dengan sikap enteng.

Kulihat, Siran mengangguk-angguk tegas, seolah mendapatkan pengetahuan baru.

Seketika pula, aku mulai memahami jalan pikiran Haris soal pandemi dan langkah penangulangannya. Aku pun menyimpulkan bahwa Haris tidaklah lebih takut terhadap virus dibanding aku. “Lalu, bagaimana pendapat Bapak tentang vaksin?”

Haris lantas tergelak pendek. “Ya, menurutku, vaksin juga bukan hal yang harus dalam melawan virus. Seperti yang sudah kukatakan, asalkan kita hidup dengan pola yang sehat, virus pun tak akan menjadi masalah bagi kita,” terangnya, dengan nada tegas yang menyiratkan keyakinannya. “Yang penting juga, jangan lupa berdoa dan meminta perlindungan kepada yang Mahakuasa.”

Lagi-lagi, aku dan Siran mengangguk-angguk atas pernyataannya.

Akhirnya, setelah perkacapan kami itu, aku pun kembali menimbang-nimbang perihal pemikiran dan sikapku terhadap pandemi. Aku merasa semakin bimbang. Aku memang tak seketat Siran dalam menjalankan protokol kesehatan dan menaati pembatasan sosial, tetapi aku juga tak selonggar Haris dalam menyikapi aturan pemerintah dan ahli kesehatan tersebut.

Karena kebimbanganku itu, hari demi hari, aku terus terombang-ambing di antara pendapat-pendapat yang bertentangan di media massa dan media sosial. Akhirnya, yang kulakukan hanyalah menjalankan aturan kesehatan dengan seperlunya, meski tanpa pemahaman ataupun kesadaran. Kepatuhanku terhadap aturan tersebut, belumlah sepenuh hati dan pikiranku.

Tetapi kenyataan yang jauh berbeda, akhirnya kusaksikan pada diri Siran. Hari demi hari, ia terlihat semakin longgar saja dalam menunaikan aturan kesehatan. Setidaknya, aku mulai sering melihatnya tidak memakai masker kala bergaul dengan para tetangga. Aku pun mulai sering melihatnya tak mengenakan masker secara tepat, semisal menurunkannya ke sisi dagu, kala ia melakukan aktivitas memulungnya.

Tanpa keraguan, aku pun meyakini bahwa Siran begitu terpengaruh dengan pendapat Haris empat belas hari yang lalu. Ia seolah mendapatkan pandangan yang baru perihal cara bersikap dan bertahan hidup di tengah pandemi yang berkepanjangan. Apalagi, atas keadaannya yang rendah pendidikan, ia jelas sangat mudah memercayai perkataan Haris yang merupakan seorang doktor.

Sampai akhirnya, kabar buruk berembus ke telingaku tujuh hari yang lalu. Sebuah kabar yang merebak cepat dan mengejutkan warga di sekitar lingkunganku. Pasalnya, Siran sakit keras, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Tak lama kemudian, hasil pemeriksaannya keluar, yang menyatakan bahwa ia positif terjangkit virus corona.

Pada hari itu juga, petugas kesehatan dengan alat pelindung diri, datang ke kompleks perumahan kami. Mereka lantas memeriksa para warga yang telah berkontak dengan Siran pada hari-hari sebelumnya. Hasilnya, sejumlah warga dinyatakan positif virus corona, termasuk istri, anak, dan menantu Siran. Akibatnya, lingkungan kami dikenakan aturan pembatasan yang ketat, dan warga yang positif wajib melaksanakan isolasi mandiri.

Tentu saja aku merasa beruntung, sebab aku sekeluarga negatif virus corona. Tetapi kenyataan bahwa Siran sekeluarga dan beberapa warga yang lain positif virus corona, seketika membuatku sangat khawatir. Aku pun jadi yakin sepenuhnya perihal ancaman nyata virus corona. Aku pun jadi taat sepenuhnya terhadap aturan kesehatan dalam mengatasi pandemi.

Hingga akhirnya, hari ini, kabar baik berembus ke telingaku. Puskesmas yang tak jauh dari rumahku, tengah mengadakan vaksinasi virus corona. Maka tanpa menimbang-nimbang lagi, aku, juga istri dan anakku, memutuskan untuk ikut. Dengan mengenakan masker standar, kami pun menuju ke puskesmas untuk mendapatkan suntikan vaksin. Aku harap, dengan begitu, tubuh kami jadi kebal dari gerogotan fatal virus corona.

Tak berselang lama, kami pun sampai di halaman puskesmas. Kami kemudian mengantre dengan tetap menjaga jarak. Sampai akhirnya, aku terkejut setelah melihat sepasang mata yang tak asing di sisi depanku. Sepasang mata milik lelaki berkopiah hitam yang sedang mengantre dan tak lama lagi akan masuk ruangan untuk mendapatkan suntikan. Aku memang tak bisa melihat wajah lelaki itu secara utuh, sebab ia mengenakan masker, tetapi aku yakin betul bahwa ia adalah Haris.


***

 


 Tentang Penulis



Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksespi).

 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.