Risdawanti
“Sebuah Pesan Bapak”
Aku berjalan menatap bendera yang berkibar
di sepanjang jalan raya
di depan rumah megah para saudagar kaya
juga halaman sepetak orang desa
Sebelum baskara terbit dengan sempurna
nyanyian kemerdekaan telah menggema di seluruh siaran;
pada televisi yang hitam putih dan warna sejak pagi masih buta
meski tidak ada perayaan besar seperti biasanya
Kata Bapak sebelum tiada
Mungkin suatu hari kau tak bisa melupa
segala ketidakadilan yang mengoyak-moyakkan makna merdeka
korupsi menjadi kasus yang diacuhkan
para fakir dimasukkan ke jeruji hanya karena mencuri ubi
pancasila diganti aturan yang semakin gila
Ketika si miskin bicara, mereka menutup telinga; menulikan segala perkara
sedang si kaya berkipas-kipas dengan bebas
meski buas dan menginjak-injak hukum
Tapi, sepanjang Bapak hidup
Nak, jasmerah, pesannya
Jangan sesekali melupakan sejarah
Bila kau hidup di zaman sebelum merdeka dan serba ada
Kau kering kerontang dan mungkin telah tertimbun di dalam tanah
sebab tak tahan melihat peperangan dan darah
orang-orang ditikam ketakuan
berita kematian setiap hari terdengar
Maka anakku
rawatlah Indonesia seperti Ibu yang semakin memasuki usia senja
seperti kau mengerti bahwa ajalnya bisa kapan saja
seperti kau harus paham siapa lagi yang kan menjaganya
Nak, teruslah bergetar setiap kali nyanyian kemerdekaan berkumandang
simpanlah segala cinta di degub jantungmu
sampai detak paling sisa
Dolok Masihul, 17 Agustus 2021
Kereta Terakhir
Pada malam yang kian sunyi
Peron-peron terhampar sepi
Hanya sedikit dingin yang menyerbu panas
Dan di atas roda-roda besi yang mulai berdecit
Kuserahkan seluruhnya perjalananku
Yang kutahu hanyalah
Sampai di tujuan dengan tenang
Kereta Terakhir Yogyakarta, 22 Agustus 2021 22:22

