Menjelmalah Bayangan
entah mengapa
orang-orang mengira patahan kata yang kutuliskan seumpama rapalan doa yang tak
berkesudahan
ia mendekapku erat
selayaknya pinta yang terikat, erat, lalu mencekat
kuurungkan segala harap
dalam keterkurungan kata tanpa cahaya
lambat-lambat ...
aku mengira orang-orang
tak lagi menganggap kata-kataku yang patah penyebab luka
cahaya mulai berpendar
dan luka telah menjelma bayangan.
Bandung, 23092021
Baru Saja Kutemukan
dalam rangkaian aksara
telah kutemukan dirinya si perangkai kata
menjadikannya penulis cerita
menjadikanku pembaca cerita
aku menemukan perca
kata
jemarinya telah
merangkai sejak lama
aku terdiam
mengheningkan waktu
jika sekiranya menemukan namaku dalam tumpukan kata-kata itu.
Bandung, 09.2021
Jika Suatu Saat Nanti Aku Pulang,
Berharap Cerita Lama Tidak Lagi Besertaku
sebab aku terlahir dari
cerita dan tumbuh bersama cerita-cerita
semua orang mempunyai
ceritanya masing-masing terhadapku
apa yang menjadi tanya
sebetulnya telah menciptakan jawaban
langkah kaki seakan
dibelenggu oleh beragam katanya
kubawa diri berlari
kemana pun angin kan membawanya
mendekap harapan yang
masih saja menjadi pengharapan
aku pergi sebagaimana
kujadikan cerita itu mengusirku
jika suatu saat nanti
aku pulang
berharap cerita lama
tidak lagi besertaku
telah kubuang jauh
sebagaimana caraku membuang diri
tak ingin siapapun
membelenggu segala keinginan hati
sebab aku terlahir dari
cerita
dan tak ingin mati
tersebab cerita-cerita.
Bandung, 23092021
Tentang Penulis
DE
EKA PUTRAKHA. Berasal dari Bukittinggi, Sumatera
Barat. Profilnya dapat dibaca dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid
6” FAM Indonesia. Buku
puisi tunggalnya antara lain; Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata
(2019). Tulisannya dimuat di berbagai judul buku antologi serta di media cetak
dan online. Terpilih sebagai Pemenang
10 Resensi Terbaik “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan
Penyair Malaysia. Dapat
dihubungi melalui
facebook: De Eka Putrakha, instagram:
@deekaputrakha.