Cerpen Ramli Lahaping

 


Alamat Sedekah


Langit tampak cerah. Aku telah selesai menyiram bunga di halaman. Dengan perasaan yang tenteram, aku lantas masuk ke dalam rumah. Aku berencana memasak makanan untuk diriku sendiri dan untuk anak semata wayangku yang masih berusia empat tahun. Tetapi seketika, aku mendengar suara ketukan dan sahutan salam dari sisi pintu. Aku pun lekas menyambut, hingga aku menemukan Hamdi, tetanggaku, yang tinggal selang tiga rumah dari rumahku.

Dengan sikap ramah, aku lantas mempersilakannya masuk dan duduk di kursi. Sebagaimana mestinya, aku kemudian melangkah ke dapur dengan maksud membuatkan kopi untuknya.

Tetapi seolah bisa membaca niatku, ia pun segera menahanku, “Tak usah repot-repot. Aku hanya sebentar,” katanya, lantas melayangkan senyuman.

Akhirnya, aku kembali, lalu duduk di depannya.

“Begini, Bu Ratih,” tuturnya, lantas berdeham. Ia kemudian merogoh sebuah amplop dari dalam kantong bajunya. “Aku ada kelebihan rezeki. Aku harap, ini bisa membantu untuk kebutuhan Ibu sehari-hari,” terangnya, dengan sikap tubuh yang tampak kaku, sambil menyodorkan sebuah amplop yang kutaksir berisi uang.

Sontak saja aku menolak. “Tak usah, Pak. Aku merasa tak perlu. Sebaiknya Bapak berikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan,” balasku, sesantun mungkin.

“Tidak apa-apa, Bu. Aku memang memaksudkan ini untuk Ibu. Kalau untuk orang yang lain, tentu aku akan memberikan bagian yang lain pula,” timpalnya, tampak berkeras. “Aku tidak bermaksud sombong. Aku hanya ingin berbagi sebagai wujud rasa syukurku atas usaha penjualan gorenganku yang makin laris."

Aku lantas menggeleng. “Maaf, Pak, bukan bermaksud menyinggung, tetapi aku merasa kalau Bapak sebaiknya memberikan itu kepada orang yang lain saja,” ulangku, tenang, lalu melayangkan senyuman simpul untuk mengisyaratkan penghargaanku. “Tetapi terima kasih atas niat baik Bapak kepadaku.”

Akhirnya, dengan raut yang tampak kecewa, ia pun mengantongi kembali amplop tawarannya. “Baiklah kalau begitu. Maaf mengganggu. Aku permisi.”

Aku mengangguk saja.

Setelah melayangkan senyuman yang singkat dan kaku, ia pun berdiri dan melangkah pergi.

Tentu saja aku merasa tak pantas menerima bantuan darinya. Meski aku adalah seorang janda beranak satu setelah suamiku meninggal karena penyakit paru-paru lima bulan yang lalu, tetapi bukan berarti aku jadi tidak mampu secara ekonomi. Itu karena almarhum suamiku yang merupakan seorang nelayan, telah meninggalkan tabungan yang cukup menjamin untuk aku dan anakku. Apalagi, aku juga masih menjalankan usaha penjahitanku, dan aku masih kerap mendapatkan pesanan.

Namun aku bisa membaca bahwa kehendaknya untuk menyantuniku, tidaklah didasari oleh rasa kasihannya. Aku menerka bahwa ia punya maksud hati yang terselubung. Aku menaksir kalau ia hendak mendapatkan perhatianku. Tetapi atas statusnya yang masih beristri, tentu aku merasa tak sepatutnya menerima pemberiannya yang terkesan sebagai hadiah itu. Sebaliknya, aku merasa seharusnya menolak pemberiannya tersebut untuk sekaligus membunuh benih perasaannya kepadaku.

Terlebih lagi, Rasmi, istrinya, adalah teman dekatku. Di antara ibu-ibu yang lain, aku dan dia memiliki hubungan yang cukup erat. Itu karena kami sama-sama gandrung mengoleksi tanaman hias. Kerena itu pula, aku jadi sering bersua dengannya untuk mengobrolkan perihal pemeliharaan bunga. Aku kerap meminta tips dan pendapat kepadanya perihal perbungaan, sebab ia mememang lebih unggul ketimbang aku dalam soal itu. Bahkan aku merasa bisa menjadi pencinta bunga yang sejati karena bimbingannya juga.

Karena kedekatanku dengan Rasmi pula, aku akhirnya mengetahui bahwa Hamdi memang tidak sepantasnya memberikan uangnya kepadaku, entah sebagai sedekah atau hadiah. Itu karena aku tahu bahwa Rasmi dan lima orang anaknya, jauh lebih membutuhkan uangnya untuk kebutuhan hidup mereka ketimbang aku dan anakku. Hal itu kuketahui seminggu yang lalu, ketika Rasmi datang ke rumahku dan mengeluhkan perekonomiannya:

“Aku bisa meminjam uangmu, tidak?” tanya Rasmi kemudian.

Aku pun heran dan penasaran. “Memangnya, kamu butuh uang untuk apa?”

Ia lantas mendengkus. “Anak-anakku butuh ongkos untuk urusan kuliah dan sekolah mereka.”

Sontak, aku jadi tak habis pikir. “Memangnya, usaha penjualan gorenganmu bagaimana? Apa hasilnya tidak cukup untuk menalangi kebutuhan anak-anakmu itu?”

Ia lekas mengangguk lesu. “Kalau aku hanya punya seorang anak sepertimu, pasti itu sudah lebih dari cukup.”

Akhirnya, aku bisa memahami keadaannya. Tanpa pikir panjang, aku pun meminjaminya uang sebanyak satu juta rupiah, sebagaimana permintaannya, dan ia berjanji akan segera melunasinya.

Berdasarkan penuturan Rasmi tersebut, aku pun tak bisa memercayai perkataan Hamdi bahwa perekonomiannya sudah mapan. Ia jelas masih butuh banyak uang untuk keperluan para anggota keluarganya. Karena itulah, ia semestinya memberikan uang kepunyaannya kepada istri dan anaknya, bukan malah memberikannya kepadaku ataupun kepada orang yang lebih miskin daripada aku. Bagaimanapun, setiap orang seharusnya memberikan perhatian kepada orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.

Akhirnya, atas kenyataan yang telah kuketahui, kini, aku merasa lebih berdaya secara ekonomi ketimbang Rasmi dan Hamdi. Setidaknya, sampai saat ini, aku tak pernah berutang kepada siapa pun untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan anakku. Aku bahkan masih mampu menyedekahi orang-orang miskin yang ada di sekitarku.

Sebagai wujud rasa syukurku atas keadaan perekonomianku yang baik-baik saja, hari ini, aku pun memutuskan untuk kembali berbagi. Aku lantas mengunjungi Ibu Sami yang telah berusia lanjut, untuk menyantuninya. Aku merasa iba setelah menyaksikan kehidupannya yang memprihatinkan sebagai seorang janda yang tinggal seorang diri di rumah panggungnya yang reyot. Apalagi, atas kenyataan yang telah kuketahui tentang kehidupan Rasmi, anak semata wayangnya, aku pun menaksir bahwa ia tak bisa mengharapkan siapa-siapa lagi untuk meringankan beban hidupnya.

Akhirnya, menjelang tengah hari, aku pun menandangi Ibu Sami di rumahnya.

“Tabik, Bu. Ini, aku punya rezeki untuk Ibu,” kataku, setelah berbasa-basi, sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang. “Semoga bisa membantu untuk kebutuhan Ibu sehari-hari.”

Sontak, ia terkesima. Dengan raut haru, ia pun menyambut pemberianku. “Terima kasih banyak, Nak.”

Aku lantas mengangguk dan melayangkan senyuman. “Sama-sama, Bu.”

Ia kemudian mendengkus lesu. “Seandainya saja Rasmi punya perhatian sepertimu, aku pasti hidup tenteram,” ratapnya, dengan mata berkaca-kaca.

Aku lalu berpikir keras untuk meredakan kegalauannya, hingga aku membalasnya dengan menyamarkan fakta yang kuketaui perihal perekonomian anaknya itu, “Setiap orang punya rezeki, Bu. Bisa jadi, saat ini, anak Ibu memang kurang beruntung dalam soal ekonomi.” Aku lantas memikir-mikirkan kepantasan ucapanku, hingga aku lekas menambali, “Anggap saja pemberianku ini sebagai pemberian dari anak Ibu sendiri.”

Ia pun tersenyum tenang.

Tak lama kemudian, setelah basa-basi penutup, aku pun pamit dan pulang.

Lalu tiba-tiba, di tengah perjalanan, ponselku berdering. Di layar, aku melihat Maya sedang memanggil. Ia adalah adikku satu-satunya yang tinggal bersama suaminya dan empat orang anaknya di kabupaten lain.

“Aku bisa meminjam uangmu, tidak? Aku butuh dua juta,” tanyanya kemudian, setelah kami saling berbagi kabar.

Aku pun terkejut. “Memangnya, kau mau pinjam uang untuk apa?”

Ia lantas mengembuskan napas yang panjang. “Aku butuh uang untuk kebutuhan kami sehari-hari, dan aku merasa sebaiknya meminjam uang kepadamu sebagai saudaraku.”

“Bukankah gaji suamimu seharusnya cukup untuk kebutuhan kalian sekeluarga?” selisikku.

Ia kemudian melenguh. “Sudah dua bulan suamiku tidak bekerja. Ia dirumahkan oleh pihak perusahaannya.”

Seketika pula, aku menelan ludah di tenggorokanku. Aku tak menyangka bahwa adikku sendiri ternyata tengah mengalami permasalahan ekonomi. Aku pun merasa bersalah karena lebih memerhatikan keadaan orang lain ketimbang keadaannya. “Baiklah. Kirimkan aku nomor rekeningmu. Akan aku transfer segera.”

“Terima kasih,” pungkasnya.

Sambungan telepon pun terputus.

Sesaaat kemudian, di tengah keprihatinanku atas kondisi perekonomian adikku sekeluarga, ketika aku hampir sampai di halaman rumahku, tiba-tiba, Rasmi menyahutiku, “Hai, ke sini sebentar.”

Dengan penuh tanda tanya, aku pun bertandang ke halamannya. Seketika pula, perasaanku tersentak setelah menyaksikan sepot bunganya yang kutaksir berharga mahal.

“Lihatlah, cantik, kan?” tanyanya, meminta pendapat.

Aku mengangguk saja.

“Aku baru membelinya dua hari yang lalu,” terangnya.

Aku pun tercenung.***

 


Tentang Penulis



Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.