Puisi Risdawanti



Di Kafetaria Pukul Lima


Aku terduduk menatap lalu lalang kendara

netraku merapah mencari-cari sesuatu di tengah hujan

yang menjatuhkan rintik dan rindu

namun belum mendatangkan bau tubuhmu


Waktu berjalan cepat

lembayung senja hampir mencipta nirmala

kepala dipenuhi tanya yang entah jawabnya

namun di persimpangan, derapmu belum terdengar


Kopi mendingin serupa raga yang dibelai angin

perjanjian pukul lima hanya sebatas kata yang mengalpakan kita

apakah renjana yang kau tulis di pepuisi itu 

hanya sebatas coretan tanpa makna?


Orang-orang menggandeng kekasihnya

meluruhkan segala gemuruh di dada dan mata

menyatukan peluk yang dibelah jarak aksa

di saksikan semesta; mereka euforia


Tak ada yang istimewa

meski semakin malam para pemabuk romansa berdatangan

sebab aku; perempuan yang berada di meja nomor tiga

ingin pulang saja; menidurkan nestapa dan memejamkan duka


Dolok Masihul, 22 Agustus 2021





Wasiah


Wasiah, perempuan kampung tetangga

molek wajahnya, bibirnya merekah merah

senyumnya mengembang gula

di tangannya makanan tercipta enak rasa


Wasiah, abang ini bukan saudagar kaya

tapi bermimpi jadikanmu ratu di singgasana 

bersamamu hingga usia mencapai senja

memiliki anak-anak empat atau tiga


Wasiah, abang tak ada sawit berhektar

apalagi kata-kata romansa yang membuat dadamu bergetar

meski kantung abang datar

cinta ini soalan perjuangan yang sabar


Wasiah, meski abang tau

kau bisa dipinang pengusaha atau aparat negara

tetapi pantang bagi abang mengaku kalah

sebelum berdarah-darah 


Wasiah, kepadamu abang jatuh dan rela terpecah-belah



Dolok Masihul, 26 September 2021


Tentang Penulis


Penulis merupakan salah satu anggota aktif KOSANA, ia lahir di Pangkalan Brandan, 26 Juli 1998 asal kota Medan, dapat disapa via  akun instagram : @risdawanti26

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.