Cerpen Agus Sanjaya

 



Harapan Secarik Kertas


Sore ini angin bertiup lembut. Pohon menari riang, seolah tidak memiliki beban apapun. Ayah mengajakku ke suatu tempat. Sebuah jalanan kecil berbatu, dengan sawah padi di sisi kanan kirinya.

Suasana menjadi mistis, ketika jalanan tersebut berujung pada beberapa makam tua. Menurut ayahku, itu adalah makam dari seorang dalang dan dua sindennya yang sangat terkenal di desaku dulu .

"Sebenarnya untuk apa sih kita ke sini?" tanyaku bingung.

"Minta keberuntungan," jawab ayah sambil meletakkan secarik kertas dan pena di atas makam itu.

Ayah juga menyalakan dupa. Keheningan menemani kami berdua, aku merasakan bulu kudukku meremang. Aku rasanya ingin segera pulang.

Setelah ritual itu selesai. Ayah mengajakku pulang, tak lupa membawa secarik kertas yang diletakkan di atas makam tadi. Seutas senyum mengembang di wajah tampan ayahku.

Keesokan harinya ayah menyerahkan nomor keberuntungannya pada penjual lotre. Ayah sangat berharap semua usahanya berhasil. Aku hanya bisa mendoakan agar keinginannya terwujud.

"Nomornya 18." 

Ayah merobek kupon lotre yang dibawanya. Ia kesal karena tidak berhasil, nomor miliknya 19. Aku hanya bisa menenangkannya. Semoga ayah bisa tabah menghadapi kekalahannya.

"Dasar demit kuburan pelit! Cuma bisa memberikan kesialan saja," umpat ayah.

"Kamu gagal So?" tanya seorang bapak tua, mungkin temannya ayah."

"Iya Wan," jawab ayahku pada bapak yang bernama Gunawan itu.

"Karso, kamu nggak pernah berhasil dari dulu. Coba pergi ke pohon beringin yang ada di sana!" kata Pak Gunawan menunjuk ke arah pohon beringin di dekat SD.

"Di, ayo ikut aku lagi!"

Aku masih menatap pohon beringin yang ditunjuk Pak Gunawan. "Ardi, kamu nggak denger ayah ngomong?!" teriak ayah yang membuatku kaget.

"Maaf Yah, Ardi tadi nggak denger."

"Ayo ke beringin itu!"

Aku hanya bisa menurut. Sejak SMP ayah selalu mengejar undian lotre, aku selalu diajaknya untuk melakukan ritual agar rencananya berhasil.

Pohon beringin di dekat SD itu memiliki suasananya menyeramkan. Kabar yang beredar, di sana adalah kerajaan jin. Seseorang pernah mengalami kejadian misterius di sana, dia adalah tukang meubel yang diminta mengantarkan pesanan ke rumah mewah. Orang itu tidak menaruh curiga, ia mengantarkan pesanan yang diminta. Namun, kebahagiaan tukang meubel itu seketika lenyap. Saat dia sadar, rumah mewah itu hilang dan hanya tersisa sebuah pohon beringin.

***

Ayah melakukan ritual di dekat pohon beringin tersebut. Ia sangat berharap penunggu di sana dapat membantunya. Aku hanya bisa pasrah melihat kesungguhan ayahku, meskipun semuanya tak dapat diterima logika. Ayah juga selalu marah ketika aku menasehatinya untuk menghentikan semua ini.

Ayah kembali berharap keberuntungan menyertainya kali ini. Sebotol air mineral telah habis diteguknya, dalam kekhawatiran ia tetap optimis berhasil. Terik matahari tak membuat ayah kehilangan semangatnya.

"Nomor 21."

Nomor yang dipegang ayahku adalah 20. Ayah yang kesal membanting botol minum yang dibawanya. Semuanya sudah sia-sia, tidak ada sebuah kemenangan yang dapat diraih dengan instan.

"Aku belum kalah ... besok coba lagi!" kata ayah tak menyerah.

Perlahan mentari mulai tenggelam ke sisi barat, mungkin dia akan segera beristirahat. Sama seperti kami yang berjalan pulang ke rumah. Angin berembus cukup kuat, bertarung dengan semangat ayahku yang masih menggebu. Aku hanya bisa berdoa agar ayah bisa lebih realistis, meskipun semua itu mustahil.

 

 

 

Tentang Penulis




Ia bernama Agus Sanjaya. Lahir di Jombang, 27 Agustus 2000. Hobi menulis puisi dan cerpen.. Dia menyukai sajak sejak bangku SMP, melalui itu ia bisa mencurahkan segala keluh kesah dan perasaannya. Agus mulai menciptakan dua novel di masa pandemi untuk mengisi kebosanan hatinya. Untuk lebih dekat silakan mengikuti instagramnya agussanjay27.

Tags

Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.