Puisi Sultan Musa & Annur Halimah Hakim




Sultan Musa

Bulan  Berkisah

 

Bulan, menembus

berkisah

semula diam

lalu menyapa

menjemput  pada  masa

seakan berkelana

memahat keajaiban

adalah yang terkata

 

Banyak  sinar  menepuk

namun tersesat  dalam kenangan

meski tak rapi

“bolehkah  dipetik  sebagai  kisah?”

cukuplah keadaan ini

menjelma sebagai sebuah kereta

nasehat  baik  untuk  pesunyi

 

2021

 




Annur Halimah Hakim

Doaku Menuju Firdaus-Mu

 

Kudongak ke langit lazuardi cuaca terang. Awan berarak memayungi pulau seribu rahsia. Sepoi bayu semilir mencumbui mesra wajahku. Dedaun kelapa melambai-lambai. Sepi di waktu Dhuha ini hanya bersaksi langit dan bumi. Desiran ombak membadai pantai mengingatkan.daku pada helaian kenangan rusuh. Hampir terkoyak diasak asam garam kehidupan.

 

Daku meneguk secangkir sabar dari cawan kesetiaan. Kata hatiku bermonolog dimanakah ikrar janji sumpah setia sehingga ke hujung nyawa. Katamu Nun berkali-kali, dakulah sumpah cinta ke akhir nyawa. Di dalam sarafmu ada namaku. Denyut nadimu memanggil namaku. Berkali-kali.

 

Tidakkah dikau mengerti Nun, saban hujung minggu aku menantimu di sini. Di daerah cinta berputik menuju rahsia musafir menuju-Nya. Tidak henti kuberdoa bermunajat dalam sunyi. Di sepertiga malam kudoakan kesejateraanmu. Jalan cintaku tiada bernoktah. Setiap denai kupahat namamu.

 

 Walau beribu kali jatuh tertiarap, tersungkur di atas kerikil, wajah berdarah pecah di ranting sabar, aku bertahan. Demimu Nun demi ikatan ukhuwah fillah daku tidak inginkan perpisahan. Namun rencana Allah Ya Malikul Mulk daku bersyukur. Diizin-Nya daku bernafas walau wajah terbenam dalam lumpur asin, daku sesak nafas Nun. Allahuakbar.

 

Daku hilang upaya namun bagai seluang bersejemput aku gagahkan rongga hidung menyedut nafas sekuat hati dari paru-paru yang robek dimamah Covid 19. Berhempas pulas daku berenang ke tepian. Masih kukenang tatkala jantungku terhenti degupan dikau melakukan pernafasan sebelum daku diisterehat di Wad Unit Rawatan Rapi. 

 

Masih dirajut akad yang halal akhirnya melayang ikatan kita disambar maut. Tuhanku, beri kekuatan menghadapi ujian-Mu. Daku tidak ingin tewas. Daku tidak ingin rebah. Tuhan, beriku satu harapan menerus perjuangan berbaki. Ikrarku di lembah sunyi sebelum nyawaku dibawa kembali ke pangkuan-Mu.

 

Pulau Pinang, 19 September 2021

 \


Tentang Penulis


Sultan  Musa, penulis asal Samarinda, Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar diberbagai  platform media cetak dan daring. Profilnya tercatat dalam “Apa & Siapa Penyair Indonesia – Yayasan Hari Puisi Indonesia” Jakarta 2017. Karya tunggal terbarunya berjudul “Titik  Koma” (2021).

 

Annur Halimah Hakim, penulis asal Perlis. Karyanya berupa sajak dan cerpen tersiar di berbagai media Malaysia.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.