Puisi Ahmad Rizki

 


Sebungkus cinta diseduh di gelas putih
: Buat calon bini yang asyik menyepi.

 

#

Ya ampun#Amatlah khawatir mengeja

masa depan sepanjang naluri kasih

sayang yang ditarik-tarik

tranformasi jaman digital#

Amatlah percuma beratus-

ratus puisi ditulis, dibaca, dieja,

dianalisis, dipropagandakan, diborgol,

diarahkan ke penjuru keyakinan

lalu cinta dipertontonkan di dunia maya,

dan berpuluh-puluh penyelesaian yang aneh

hanyut dimakan masa#

 

Lalu, apakah cinta adalah sebungkus kopi yang

diseduh di gelas putih? Kemudian ditendang bocah bau kecur,

dan berceceran di lantai merah?

 

##

Ya ampun#Amatlah ngeri nelusuri

masa lalu yang konyol di antara jembatan

rapuh keyakinan itu#

Amatlah sia-sia berangkat dari segunung

niat suci dan seabreg rencana mateng

tapi hati dan langkah goyang disenggol realita#

 

Lalu, mungkinkah cinta adalah guyonan

menjelang tidur? Kemudian nglilir, dan hanyut

ketika kebelet kencing pagi nanti#

 

###

Ya ampun#Amatlah sedih membaca

hari ini di sekitar jual-beli

ketololan pura-pura estetik-romantik,

dan kesejatian mampus digebukin kenyataan#

Amatlah jancuk menakar standar tulus-

seriusnya cinta dengan menyogok pasar sebagai

garda depan, lalu persoalan seakan diatasi-teratasi

oleh standar-standar propagandanya#

 

Lalu, secemen itukah cinta yang kita jabarkan

di zaman yang menjengkelkan?

Ah, omong kosong#

 

2021






Perahu bocor

 

#

Telah berlayar kami di samudra#

Terombang-ambing 76 Tahun lamanya, kami mabok,

kami celaka, tak ada daratan, angin hanya menuju neraka,

Nahkoda sibuk bercinta, kami hampir mati#

 

Yang kami tahu hanyalah degup

jantung yang pasrah

bersuara di lorong-lorong itu, dan

ketika badai yang sesungguhnya

tiba, perahu kami bocor, kami sibuk

menambalnya dengan satu persatu kami

menjadi tumbal (kadang-kadang suara yang

tersisa hanya demi perahu dan seluruh awak kapal)#

 

##

Telah berlayar kami di samudra#

Satu-satunya alasan untuk bertahan adalah mencintai

hidup dan keluarga. Tak ada pedoman, kami

memulai dengan kebodohan, tanpa persiapan kami

erlayar, dengan semangat yang sombong,

kami berangkat menuju kehancuran#

 

Yang kami ingat hanyalah sisa gigitan apel

yang dimakan panitia, itu juga hanya secuil,

kami diminta sabar dan ikhlas, tapi yang kami

dengar dari kamar sebelah adalah pesta pora,

nyanyian kemenangan, dan yang kami terima adalah

semua yang tak manusiawi#

Kami hanya disuruh patuh dan taat,

sedang kami liat tulang-belulang di tempat sampah

depan kamar mereka. Kami tak dapat apa yang butuhkan#

 

###

Telah berlayar kami di samudra#

Terkoyak kami di samudra#

Hampir putus asa#

Kami celaka#

Sepertinya kami akan musnah#

 

Yang kami lihat hanya omong kosong kesejatian#

Omong kosong kesejahteraan#

Omong kosong keadilan#

Omong kosong dan omong kosong#

 

####

Telah berlayar kami di samudra#

Tak ada yang kami terima#

Tak ada bahagia#

Tak ada cita-cita#

Dan yang terkenang adalah kecewa#

Lalu kecewa menjadi darah#

Dan darah mengalir ke otak#

Dan otak menyulut api#

Dan hati menoleh#

Dan perahu kami bocor#

Dan berapa lama lagi kami akan bertahan?

Lalu apakah yang akan kami ceritakan pada anak-

anak kami? Dan kemerdekaan? Mungkin omong

kosong yang memabukkan#

 

2019

 


Di malam yang bingung.

: Buat teman yang belum mau ngopi.

 

O, Allah.

Berakali-kali aku pinjam istilah di maha luas-

nya hati manusia, tapi tak kutemui diriku malam ini:

Saat gerimis menemani sujud dan ruku',

dan di perjalanan sunyi senyap ini,

aku tertatih-tatih, tapi suarammu menggoda

kaki untuk terus berlari-lari kecil antara kepercayaa-

n dan kesejukan malam ini.

 

Allah yang Maha menyesatkan.

Jiwaku mengudara di hamparan hidayahmu.

Angin seraya mengirim perintah di antara

napas orang suci, lalu  lampu melototi kiblat mataku,

ia seperti mengintip binar-

binar takut dan ragu, kemudian aku bingung,

wahai Allah.

Keringat keluaran dari kulit, tapi jiwa ini

masih saja bergetar.

 

Air makin kenceng jatuh di depanku. Pikiran

seperti tiang listrik yang nyambung ke mana-

mana. Lalu tiba-tiba saja aku memilih puisi.

Sesuatu yang akan mengurangi

ketakutan dan sangsi jiwaku.

Lalu semua kata dan bunyinya

seperti bingung, sesat dan tak ada penghayatan

susastra yang mewah-mewah.

Kesadaranku semakin dingin.

Tak ada landasan yang serius

selain menyuarakan omong kosong ini.

 

O, Allah.

Amatlah miris terjungkal-

jungkal di lorong sunyi tanpa pelukan.

Aku bingung, Ya Allah.

Peluklah aku.

Tak ada yang dapat kunikmati.

Semua yang kujumpa adalah

Kesemrawutan dan omong kosong.

Bahkan orang-orang di sekitar

hanya menunda, mencemooh,

menelantarkan kebingungan ini.

 

O, Allah.

Sudah banyak kupinjam idiom cinta

yang kautabur di alam ini tapi tak

kutemukan juga diriku ada di antaranya.

 

O, Allah.

Berikanlah kesabaran nabi-nabi

padaku. Tuangkanlah cintanya.

Biarlah aku memungutnya.

Lalu, aku akan kuikat semuanya

pada jiwa kosong ini.

 

Ya Allah.

Di malam yang bingung

ini, di perempatan abad yang semrawut,

di sepanjang jual-beli ilahi, di seluruh

kata-kata yang fana, di antara

keras kepalanya manusia, di ujung, tengah,

pojok, pinggir hati yang rapuh, aku ngesot

datang padamu, tanpa egoisme, napsu-

napsu, palsu-palsu, lalu kuserahkan

jiwaku, ruhku, hidup, dan semuanya pada

kesejatian dirimu.

 

Ya, Allah.

Aku bingung.

Aku datang kepadamu.

Terimalah.

Terimalah aku!

 

2018






Sialan
: Buat aktivis yang menangis di ujung gerimis

 

#

Aduhai#

Terik matahari di congormu menyobek kesemrawutan#

Aku rindu semerbak melati di kuburan#

Bukan selongsong kata-kata sialan yang nongol dari setempel setan#

 

Bau matahari menganggu hidungku#

167 ribu orang lapar tak lagi

teriak-teriak makanan#

Tak ada lagi bocah-bocah main petak umpet#

Tak ada lagi standar perencanaan hidup yang kolot#

 

##

Aduhai#

Keinginanmu menuntut jiwaku belingsatan#

Aku dibuntuti hantu materialisme#

Bukan cerita surga dan anak cucu di masa tua#

 

Bayanganku kabur di antara jerit peristiwa#

Aku gagap bicara, ketika transformasi perang besar berubah pola#

Lalu fenomena digodok media, dan orang-orang menyudutkan semua pikiran alternatif#

Sialan#

Tak ada lagi perang berdarah#

Tak ada lagi ngutang senjata#

 

###

Aduhai#

Terik matahari di congormu menjadi misteri#

Aku diguyur pertanyaan#

Lalu, kesengsaraan orang kalah tak kunjungan diselesaikan#

 

Bau-bauan protes kejebak di kanal omong kosong#

Tak mungkin diperhitungkan#

Tak ada yang melihat angin dari neraka, ketika semua orang dibius nyanyian surga#

Mustahil#

Amatlah sialan menitip doa pada iblis di jembatan shirootol-mustaqiim#

 

####

Aduhai#

Betapa bajingan suara congormu yang noise#

Aku hampir budek#

Karena raja-raja mabok tuak dan istrinya telanjang di malam purnama#

 

Jeritan omong kosong kesumbat jahiliah#

Angin hidayah tak nyeruntulin hati yang panas#

Tak ada sejuta niat tulus#

Tak ada jalan panjang harapan masa depan#

Tak mungkin ketololan ini dapat dikembalikan#

 

Aduhai#

Sialan#

 

2021

 



Tentang Penulis


Ahmad Rizki. Tukang bikin kopi di kasua.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.