Sebungkus cinta diseduh di gelas putih
: Buat calon bini yang asyik menyepi.
#
Ya ampun#Amatlah khawatir mengeja
masa depan sepanjang naluri kasih
sayang yang ditarik-tarik
tranformasi jaman digital#
Amatlah percuma beratus-
ratus puisi ditulis, dibaca, dieja,
dianalisis, dipropagandakan, diborgol,
diarahkan ke penjuru keyakinan
lalu cinta dipertontonkan di dunia maya,
dan berpuluh-puluh penyelesaian yang aneh
hanyut dimakan masa#
Lalu, apakah cinta adalah sebungkus kopi
yang
diseduh di gelas putih? Kemudian ditendang
bocah bau kecur,
dan berceceran di lantai merah?
##
Ya ampun#Amatlah ngeri nelusuri
masa lalu yang konyol di antara jembatan
rapuh keyakinan itu#
Amatlah sia-sia berangkat dari segunung
niat suci dan seabreg rencana mateng
tapi hati dan langkah goyang disenggol
realita#
Lalu, mungkinkah cinta adalah guyonan
menjelang tidur? Kemudian nglilir, dan
hanyut
ketika kebelet kencing pagi nanti#
###
Ya ampun#Amatlah sedih membaca
hari ini di sekitar jual-beli
ketololan pura-pura estetik-romantik,
dan kesejatian mampus digebukin kenyataan#
Amatlah jancuk menakar standar tulus-
seriusnya cinta dengan menyogok pasar
sebagai
garda depan, lalu persoalan seakan
diatasi-teratasi
oleh standar-standar propagandanya#
Lalu, secemen itukah cinta yang kita jabarkan
di zaman yang menjengkelkan?
Ah, omong kosong#
2021
Perahu bocor
#
Telah berlayar kami di samudra#
Terombang-ambing 76 Tahun lamanya, kami
mabok,
kami celaka, tak ada daratan, angin hanya
menuju neraka,
Nahkoda sibuk bercinta, kami hampir mati#
Yang kami tahu hanyalah degup
jantung yang pasrah
bersuara di lorong-lorong itu, dan
ketika badai yang sesungguhnya
tiba, perahu kami bocor, kami sibuk
menambalnya dengan satu persatu kami
menjadi tumbal (kadang-kadang suara yang
tersisa hanya demi perahu dan seluruh awak
kapal)#
##
Telah berlayar kami di samudra#
Satu-satunya alasan untuk bertahan adalah
mencintai
hidup dan keluarga. Tak ada pedoman, kami
memulai dengan kebodohan, tanpa persiapan
kami
erlayar, dengan semangat yang sombong,
kami berangkat menuju kehancuran#
Yang kami ingat hanyalah sisa gigitan apel
yang dimakan panitia, itu juga hanya
secuil,
kami diminta sabar dan ikhlas, tapi yang
kami
dengar dari kamar sebelah adalah pesta
pora,
nyanyian kemenangan, dan yang kami terima
adalah
semua yang tak manusiawi#
Kami hanya disuruh patuh dan taat,
sedang kami liat tulang-belulang di tempat
sampah
depan kamar mereka. Kami tak dapat apa yang
butuhkan#
###
Telah berlayar kami di samudra#
Terkoyak kami di samudra#
Hampir putus asa#
Kami celaka#
Sepertinya kami akan musnah#
Yang kami lihat hanya omong kosong
kesejatian#
Omong kosong kesejahteraan#
Omong kosong keadilan#
Omong kosong dan omong kosong#
####
Telah berlayar kami di samudra#
Tak ada yang kami terima#
Tak ada bahagia#
Tak ada cita-cita#
Dan yang terkenang adalah kecewa#
Lalu kecewa menjadi darah#
Dan darah mengalir ke otak#
Dan otak menyulut api#
Dan hati menoleh#
Dan perahu kami bocor#
Dan berapa lama lagi kami akan bertahan?
Lalu apakah yang akan kami ceritakan pada
anak-
anak kami? Dan kemerdekaan? Mungkin omong
kosong yang memabukkan#
2019
Di malam yang bingung.
: Buat teman yang belum mau ngopi.
O, Allah.
Berakali-kali aku pinjam istilah di maha
luas-
nya hati manusia, tapi tak kutemui diriku
malam ini:
Saat gerimis menemani sujud dan ruku',
dan di perjalanan sunyi senyap ini,
aku tertatih-tatih, tapi suarammu menggoda
kaki untuk terus berlari-lari kecil antara
kepercayaa-
n dan kesejukan malam ini.
Allah yang Maha menyesatkan.
Jiwaku mengudara di hamparan hidayahmu.
Angin seraya mengirim perintah di antara
napas orang suci, lalu lampu melototi kiblat mataku,
ia seperti mengintip binar-
binar takut dan ragu, kemudian aku bingung,
wahai Allah.
Keringat keluaran dari kulit, tapi jiwa ini
masih saja bergetar.
Air makin kenceng jatuh di depanku. Pikiran
seperti tiang listrik yang nyambung ke
mana-
mana. Lalu tiba-tiba saja aku memilih
puisi.
Sesuatu yang akan mengurangi
ketakutan dan sangsi jiwaku.
Lalu semua kata dan bunyinya
seperti bingung, sesat dan tak ada
penghayatan
susastra yang mewah-mewah.
Kesadaranku semakin dingin.
Tak ada landasan yang serius
selain menyuarakan omong kosong ini.
O, Allah.
Amatlah miris terjungkal-
jungkal di lorong sunyi tanpa pelukan.
Aku bingung, Ya Allah.
Peluklah aku.
Tak ada yang dapat kunikmati.
Semua yang kujumpa adalah
Kesemrawutan dan omong kosong.
Bahkan orang-orang di sekitar
hanya menunda, mencemooh,
menelantarkan kebingungan ini.
O, Allah.
Sudah banyak kupinjam idiom cinta
yang kautabur di alam ini tapi tak
kutemukan juga diriku ada di antaranya.
O, Allah.
Berikanlah kesabaran nabi-nabi
padaku. Tuangkanlah cintanya.
Biarlah aku memungutnya.
Lalu, aku akan kuikat semuanya
pada jiwa kosong ini.
Ya Allah.
Di malam yang bingung
ini, di perempatan abad yang semrawut,
di sepanjang jual-beli ilahi, di seluruh
kata-kata yang fana, di antara
keras kepalanya manusia, di ujung, tengah,
pojok, pinggir hati yang rapuh, aku ngesot
datang padamu, tanpa egoisme, napsu-
napsu, palsu-palsu, lalu kuserahkan
jiwaku, ruhku, hidup, dan semuanya pada
kesejatian dirimu.
Ya, Allah.
Aku bingung.
Aku datang kepadamu.
Terimalah.
Terimalah aku!
2018
Sialan
: Buat aktivis yang menangis di ujung
gerimis
#
Aduhai#
Terik matahari di congormu menyobek
kesemrawutan#
Aku rindu semerbak melati di kuburan#
Bukan selongsong kata-kata sialan yang
nongol dari setempel setan#
Bau matahari menganggu hidungku#
167 ribu orang lapar tak lagi
teriak-teriak makanan#
Tak ada lagi bocah-bocah main petak umpet#
Tak ada lagi standar perencanaan hidup yang
kolot#
##
Aduhai#
Keinginanmu menuntut jiwaku belingsatan#
Aku dibuntuti hantu materialisme#
Bukan cerita surga dan anak cucu di masa
tua#
Bayanganku kabur di antara jerit peristiwa#
Aku gagap bicara, ketika transformasi
perang besar berubah pola#
Lalu fenomena digodok media, dan
orang-orang menyudutkan semua pikiran alternatif#
Sialan#
Tak ada lagi perang berdarah#
Tak ada lagi ngutang senjata#
###
Aduhai#
Terik matahari di congormu menjadi misteri#
Aku diguyur pertanyaan#
Lalu, kesengsaraan orang kalah tak kunjungan
diselesaikan#
Bau-bauan protes kejebak di kanal omong
kosong#
Tak mungkin diperhitungkan#
Tak ada yang melihat angin dari neraka,
ketika semua orang dibius nyanyian surga#
Mustahil#
Amatlah sialan menitip doa pada iblis di
jembatan shirootol-mustaqiim#
####
Aduhai#
Betapa bajingan suara congormu yang noise#
Aku hampir budek#
Karena raja-raja mabok tuak dan istrinya
telanjang di malam purnama#
Jeritan omong kosong kesumbat jahiliah#
Angin hidayah tak nyeruntulin hati yang
panas#
Tak ada sejuta niat tulus#
Tak ada jalan panjang harapan masa depan#
Tak mungkin ketololan ini dapat
dikembalikan#
Aduhai#
Sialan#
2021
Tentang Penulis
Ahmad Rizki. Tukang bikin kopi di kasua.