Puisi Anam Mushthofa

 


Sebungkus sunyi

 

Malam itu

Bulan datang dengan menggigil,

Kemerdekaan yang telanjang

Hanya mengingat aspal yang mencium butir hujan,

Malam itu

Kegelapan menjarah waktu

Rumah oh rumah', di mana hatimu yang megah

Mataku lunglai meraba nyamanmu

Malam itu

Sejahtera telah kuyup

Sudah saya gantung bersama kalender

Menanti-nanti hari besar mu.

 

Brebes, 2020.

 





Di sebuah desa

 

Katakanlah terpencil, wajahnya mendalam menutup seluruh isi keindahannya.

Mata pencahariannya ialah bersyukur, merasa puas, bagi hasil dengan semesta.

Bila hujan turun

Suaranya begitu lembut menendang-nendang atap rerumahan.

Hujan begitu pemalu bila ingin badai di tengah perhelatan dusun itu.

Orangnya terbuat dari sabar, pekerjaannya merakit ramah,

Tamu yang datang pun dapat melepas pakaian resah.

Di sebuah desa.

Malam hari, kesunyian selalu bertamu.

Suara burung hantu, dan hewan-hewan malam bersimfoni

Tidurnya terbuat dari puas

Mengolah lahan, memeras keringat

Untuk dimakan dan diminum.

Orang-oranngnya tidak tumbuh dengan banyak slogan.

Visinya merasa cukup

Misinya mengambil seperlunya dari alam.

Di sebuah desa,

Kemajuan tumbuh begitu asing

Meski asing tetap dipaksa tumbuh.

Di sebuah desa,

Aku dan kau saling bertanya.

Apa itu modernitas?.

Di sebuah desa,

Aku dan kau seharusnya saling menjawab.

Modernitas bukan digusur atau menggusur.

 

Brebes, 2020.

 





Tubuh bulan

 

Bulan semalam telah nyenyak

Tertidur di atas tumpukan gelap, lelap jauh menyumur ke mimpi

Lekuk tubuhnya berloncatan riang, menginjak-injak kesunyian.

Bulan semalam mengabdi suntuk

Menyangga tubuhnya, lamun yang kian menebal

Cahayanya saling menyilang, menabrak pori-pori kegelapan.

Bulan semalam telah wafat

Dimandikan aliran nestapa, dibungkus kalimat berpintal-pintal

Dihantarkan ke pemakaman pasrah.

Tanah dan kembang-kembang menjelma serpihan doa

"Tenang lah, kau terkenang"

 

Brebes, 2021.

 





Lampu-lampu di atas sawah

 

Di kota mu.

Kemakmuran dijual berapa?

Bila musim bawang, lampu-lampu itu menjaga malam

Bersaing dengan cahaya bulan.

Lampu-lampu itu tumbuh menjalar

Menyikut kegelapan.

 

Brebes, 2021.

 





Menata gelap

 

Matahari membuang tubuhnya

Membenamkan sinarnya diruas-ruas pepohonan

Angin berduyun datang menyentuh langit-langit rumah

Menyapa lembut di tengah obrolan sepasang kekasih perihal hutang yang menggunung.

Menyentuh keras dahi anak semata wayang

Nasib impiannya terkoyong-koyong saling berterbangan

Menyinggahi dapur

 kadang menyala

 kadang kesepian

Kadang kebingungan

Saban malam, angin dan gelap mengenal baik masalah.

Segenap keluarga setiap malam tidur

Tapi masalah tak mengenal tidur

Angin dan gelap setia menemani

 

Dukuhtengah, 2021.

 

 

 Tentang Penulis


Anam Mushthofa pemuda kelahiran Brebes, Nomor telepon: 085759754419. Manusia biasa. Pernah menjuarai terbaik puisi kabupaten Brebes.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.