Sebungkus sunyi
Malam
itu
Bulan
datang dengan menggigil,
Kemerdekaan
yang telanjang
Hanya
mengingat aspal yang mencium butir hujan,
Malam
itu
Kegelapan
menjarah waktu
Rumah
oh rumah', di mana hatimu yang megah
Mataku
lunglai meraba nyamanmu
Malam
itu
Sejahtera
telah kuyup
Sudah
saya gantung bersama kalender
Menanti-nanti
hari besar mu.
Brebes,
2020.
Di sebuah desa
Katakanlah
terpencil, wajahnya mendalam menutup seluruh isi keindahannya.
Mata
pencahariannya ialah bersyukur, merasa puas, bagi hasil dengan semesta.
Bila
hujan turun
Suaranya
begitu lembut menendang-nendang atap rerumahan.
Hujan
begitu pemalu bila ingin badai di tengah perhelatan dusun itu.
Orangnya
terbuat dari sabar, pekerjaannya merakit ramah,
Tamu
yang datang pun dapat melepas pakaian resah.
Di sebuah
desa.
Malam
hari, kesunyian selalu bertamu.
Suara
burung hantu, dan hewan-hewan malam bersimfoni
Tidurnya
terbuat dari puas
Mengolah
lahan, memeras keringat
Untuk
dimakan dan diminum.
Orang-oranngnya
tidak tumbuh dengan banyak slogan.
Visinya
merasa cukup
Misinya
mengambil seperlunya dari alam.
Di sebuah
desa,
Kemajuan
tumbuh begitu asing
Meski
asing tetap dipaksa tumbuh.
Di
sebuah desa,
Aku
dan kau saling bertanya.
Apa
itu modernitas?.
Di sebuah
desa,
Aku
dan kau seharusnya saling menjawab.
Modernitas
bukan digusur atau menggusur.
Brebes,
2020.
Tubuh bulan
Bulan
semalam telah nyenyak
Tertidur
di atas tumpukan gelap, lelap jauh menyumur ke mimpi
Lekuk
tubuhnya berloncatan riang, menginjak-injak kesunyian.
Bulan
semalam mengabdi suntuk
Menyangga
tubuhnya, lamun yang kian menebal
Cahayanya
saling menyilang, menabrak pori-pori kegelapan.
Bulan
semalam telah wafat
Dimandikan
aliran nestapa, dibungkus kalimat berpintal-pintal
Dihantarkan
ke pemakaman pasrah.
Tanah
dan kembang-kembang menjelma serpihan doa
"Tenang
lah, kau terkenang"
Brebes,
2021.
Lampu-lampu di atas sawah
Di
kota mu.
Kemakmuran
dijual berapa?
Bila
musim bawang, lampu-lampu itu menjaga malam
Bersaing
dengan cahaya bulan.
Lampu-lampu
itu tumbuh menjalar
Menyikut
kegelapan.
Brebes,
2021.
Menata gelap
Matahari
membuang tubuhnya
Membenamkan
sinarnya diruas-ruas pepohonan
Angin
berduyun datang menyentuh langit-langit rumah
Menyapa
lembut di tengah obrolan sepasang kekasih perihal hutang yang menggunung.
Menyentuh
keras dahi anak semata wayang
Nasib
impiannya terkoyong-koyong saling berterbangan
Menyinggahi
dapur
kadang menyala
kadang kesepian
Kadang
kebingungan
Saban
malam, angin dan gelap mengenal baik masalah.
Segenap
keluarga setiap malam tidur
Tapi
masalah tak mengenal tidur
Angin
dan gelap setia menemani
Dukuhtengah,
2021.
Tentang Penulis
Anam Mushthofa pemuda kelahiran Brebes, Nomor telepon: 085759754419. Manusia biasa. Pernah menjuarai terbaik puisi kabupaten Brebes.