Violatte
[Hai manusia, hormati ibumu yang melahirkan dan membesarkanmu. Darah dagingmu dari air susunya. Jiwa ragamu dari kasih sayangnya.]
Lagu dangdut yang dipopulerkan oleh Roma Irama itu mengalun syahdu dari radio Mbah Sakir, seorang kakek tua yang tinggal di gubuk bambu dekat panti asuhan. Setiap pagi, lagu itu melayang-layang di udara, meliuk-liuk dari telinga ke telinga, menggetarkan embun-embun pagi yang kemudian menguap disepuh sinar matahari.
Lama aku mengenal kakek itu sebab selama aku tinggal di panti asuhan ini, kakek itu telah ada, mendiami rumah sederhananya seorang diri. Aku pun telah paham tentang perangai dan kebiasaan hidupnya. Dia seorang lelaki pekerja keras. Pagi pergi ke ladang. kadang menjual koran di perempatan. Sore kembali ke rumah dengan wajah lelah dan keriput yang menggantung di pipinya.
Kek Sakir sangat dermawan. Ketika panen, dia selalu memberikan separuh hasilnya kepada anak-anak panti asuhan. Biasanya singkong, talas atau ubi jalar. Koran-koran bekas sering kudapatkan untuk bahan bacaan, membuat kliping, bungkus makanan, atau hanya menjadi tumpukan kertas yang akan dijual di kemudian hari.
Dia seorang pekerja keras dan aku heran, untuk apa semua itu? Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Istrinya telah tiada. Katanya, Kek Sakir tidak mempunyai anak. Apakah itu alasannya selalu memberikan apa-apa yang dia punya kepada anak-anak panti asuhan? Apakah itu salah satu cara untuk mengusir rasa kesepiannya? Barangkali memang karena panti asuhan dan rumahnya berdekatan. Kita bertetanggaan. Itulah tradisi saling berbagi sesama tetangga di Indonesia.
Bisa dikata, Kek Sakir adalah donatur tetap di sini. Meskipun banyak donatur dari orang-orang besar yang memberikan bantuan, aku lebih suka dengan Kek Sakir. Dia tidak pernah meminta namanya untuk disebut. Dia tidak pernah meminta balasan. Seperti ketika dengan sukarela Kek Sakir memperbaiki saluran air, got yang tersumbat, lampu yang mati, dan memperbaiki panci bolong.
Donatur-donatur besar dari kota sering datang jika ada maunya. Ketika musim pemilihan calon legislatif misalnya. Mereka datang memberikan donasi dengan dalih peduli kemanusiaan, tetapi mengharap dukungan dengan kata-kata tegas yang seolah perintah dan harus dilakukan. Ada lagi, pernah seorang lelaki paruh baya tiba-tiba datang memberikan bantuan. Ternyata, dia hendak mencalonkan diri sebagai lurah. Begitu terus. Bantuan selalu berdatangan di musim pemilihan.
Namun, kami sebagai orang-orang yang hidup dari kedermawanan orang lain tidak bisa terus menerus menggantungkan nasib dan berpasrah tangan kepada takdir. Bu Asih, pengelola panti asuhan, berinisiatif mendirikan warung kecil-kecilan di depan panti asuhan. Sebagian hasilnya dikumpulkan. Kami juga membuat berbagai kerajinan tangan dari barang bekas. Tas, bunga plastik, taplak meja, kotak pensil, dan keranjang. Dari hasil usaha itu, kami bisa membeli seperempat hektar sawah di belakang panti asuhan. Sungai yang mengalir panjang membelah persawahan. Kami mengolah sawah itu dengan bantuan Kek Sakir.
Padi sebaiknya ditanam pada musim hujan karena padi memerlukan banyak air untuk tumbuh. Hal itu juga bertujuan untuk mengurangi risiko gagal panen akibat kebanjiran atau kekurangan air. Penanaman di waktu yang tepat bisa meningkatkan hasil panen. Sawah juga harus dalam keadaan subur sebelum ditanami. Harus melalui proses penyuburan dengan cara dibajak. Begitu penjelasan dari Kek Sakir.
Mendadak lagu Keramat menggema di kepalaku lagi, mengalun merdu hingga tak sengaja bibirku mengikuti bayang-bayang melodi seolah telah hapal dengan lagu itu. Aku sempat berpikir, siapa orang tua yang harus aku hormati? Dari kecil aku hidup di panti asuhan ini bersama puluhan anak-anak dengan nasib yang sama, sendirian, kesepian, tanpa tahu dari mana asalnya, siapa orang tuanya. Namun, tidak semuanya. Ada yang memang sengaja menititipkan anaknya di panti asuhan sebab tidak memiliki biaya, sedangkan aku tidak pernah tahu siapa ayah dan ibuku selama tujuh belas tahun.
Hari masih terlalu pagi. Udara sejuk berjejal di paru-paru. Kulihat Kek Sakir mengeluarkan sepeda ontelnya, hendak menuju ke percetakan, mengambil koran dan mengantarkannya kepada para pelanggan. Aku masih mematung sambil memegangi tongkat sapu, melambaikan tangan kepada Kek Sakir. Dia juga. Aku belum akan beranjak sebelum dia benar-benar pergi. Entah mengapa aku selalu melakukan hal ini hampir setiap hari. Aku selalu memerhatikan orang lain tanpa memedulikan diriku sendiri yang juga kesepian.
Aku membantu merawat anak-anak di panti asuhan ini, menjadi ibu pengganti bersama Bu Asih. Aku sering tidur sampai larut malam dan sering juga terbangun oleh pekik tangisan bayi pada saat pulas-pulasnya. Aku lebih banyak mengalah. Aku lebih banyak memastikan rekan-rekanku tidak merasa kesepian meski jauh di dalam hati, aku benar-benar rapuh.
Aku mulai mencari tahu dari mana asalku. Bu Asih pernah bercerita tentang seorang wanita kampung yang membawaku kemari. Seorang wanita berperawakan Jawa, rambut panjang, dan badan kurus. Namun, dia bukan ibuku. Dialah yang telah menemukanku tergeletak di pos ronda. Aku yakin salah satu dari orang tuaku bukan penduduk pribumi. Aku seorang gadis berambut pirang, bertubuh jangkung, dan bermata biru yang bening. Kulitku kuning langsat khas wanita Asia.
Sudah menjadi rahasia umum, wanita pribumi selalu tertarik dengan lelaki asing ataupun sebaliknya dan aku adalah hasil percampuran keduanya. Apakah di luar sana ayah atau ibu tengah mencariku? Atau aku hanya sebatas bagian kecil dari sejarah kehidupan mereka yang sengaja dilupakan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri selama belasan tahun.
"Violette?" suara lembut merambat di telingaku. "Sudah selesai? Kok melamun?" Bu Asih menepuk pundakku.
Violette adalah namaku. Kata Bu Asih, nama itu sangat cocok denganku. Paras asing, tetapi rasa pribumi. Berkarisma seperti putri kerajaan, menawan, dan memesona. Ah, Bu Asih memang selalu memujiku. Bahasa asing saja aku tak lancar, bagaimana bisa diri ini disamapadankan dengan putri kerajaan? Begitulah dia selalu menghibur hatiku yang rumpang.
Barangkali nama itu datang dari kalung berbentuk huruf 'V' yang melingkar di leherku ketika aku ditemukan. Bisa saja huruf itu menjadi Viona, Valecia, atau Vanessa. "Namun, nama Violette lebih cocok denganmu," kata Bu Asih.
"Sudah, Bu. Ma—af." Aku tersenyum tipis memendam malu. Bu Asih pergi meninggalkanku sendirian di halaman yang masih berharap jika suatu saat akan ada seseorang yang mencari keberadaanku.
Aku melanjutkan pekerjaan. Bergantian menjaga warung dengan teman, membuat anyaman keset dari kain perca, mencatat bahan masakan yang habis, mengontrol jadwal belajar adik-adik, dan mengganti popok bayi. Oh, ya. Bayi ini adalah anggota baru di panti. Seorang pemulung menemukannya di sudut pasar. Bayi ini belum bernama.
Aku sedang menyiapkan air hangat untuk Bu Asih yang akan memandikan bayi ini ketika tiba-tiba sebuah mobil mewah terparkir di depan panti. Kuduga itu adalah mobil caleg atau lurah yang hendak menyumbang. Atau bisa juga perwakilan organisasi yang hendak memberikan bantuan. Namun, aku salah. Mereka adalah sepasang suami-istri yang berniat mengadopsi bayi ini.
"Lihat, Sayang. Lucu sekali bayi ini. Kita adopsi saja yang ini," ucap perempuan itu. Lelakinya mengangguk, menyetujui permintaan istrinya.
"Kita beri nama siapa, ya?" Perempuan itu asik menimang bayi. "Apakah kamu punya pilihan nama untuk bayi ini?"
"Hmmm.... Bagaimana kalau Violette. Ya, Violette. Nama yang cantik untuk bayi perempuan." Perempuan itu mengiyakannya.
Tak lama sesudah mengurus surat-surat dengan Bu Asih, mereka pamit. Punggung mereka hilang di muka pintu. Sebelum mereka pergi, aku tak sengaja mencuri dengar percakapan mereka. Keheningan bersemayam di kepalaku.
"Apa kaulihat gadis tadi, Darling?"
"Gadis itu sangat cantik. Iya, kan?"
"Bukan. Bukan itu maksudku. Kalung yang dipakainya itu mirip dengan milikmu."
"Iya, kah? Dulu, aku membeli kalung ini sepasang. Satunya, aku berikan kepada putri kita yang hilang. Jika dia masih hidup, barangkali dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik seperti dia. Ah, sudahlah! Kalung seperti itu banyak dijual di pasar. Aku akan membelinya lagi setelah kita sampai di New York untuk anak kita." Perempuan itu memerhatikan putri angkatnya sambil tersenyum manis seolah telah menemukan bagian dari separuh kehidupannya yang hilang.
Aku hendak beranjak, tetapi tiba-tiba mata berwarna biru lelaki itu tak sengaja bersitatap sejenak dengan mataku. Aku merasakan darahku mengalir tak terkendali. Napasku tersengal dan memberat. Kehampaan menyergap. Aku mematung. Berbagai tanda tanya berkerumun di kepalaku. Berbagai perasaan yang seolah gunungan es mencair atau topan badai pada musim pancaroba tumpah ruah di dadaku. Perasaan yang ah, alangkah susah dijelaskan.
"Sayang, ayo pulang!"
Mobil mewah itu meninggalkan panti. Kesepian yang pekat bersemayam di langitku ketika mereka benar-benar pergi dan aku tidak pernah merasakan perasaan itu lagi selama bertahun-tahun.
Sumberejo, 12 Juni 2021
Penulis bernama Firman Fadilah. Tinggal di Lampung. Karya-karyanya banyak termuat di berbagai media masa baik cetak maupun online, yaitu Negara kertas.com, KBM Soloraya, Lampung News, Harian Bhirawa, dan Kawaca.com. Buku cerpen pertamanya First Kiss (Guepedia, 2021). Surel fadilahfirman651@gmail.com. Kontak: 085832129255.