Menuju Kota Utara
SIANG tadi, saat
mengapur dinding perkuburan kota, masuk sebuah panggilan ke teleponmu; dan
telepon itu dari seorang kawan, Jemmi S. Afaf, yang mana baru saja memenangkan
sebuah sayembara manuskrip novel bergengsi dan berhasil mendapatkan kontrak
dari penerbit kenamaan Jakarta. Ia berkata kepadamu, agar nanti malam datang ke
kontrakannya, sebab ada hal penting yang ingin disampaikan dan diberikan. Sebab
masih bekerja, dan memang nanti malam kau tak ada kerjaan yang benar-benat
berarti, kau pun lekas mengiyakan. Dan sembari kembali bekerja, kau masih
terpikir tentang perkataan temanmu itu. Saat temanmu berkata hendak memberikan
sesuatu, besar kemungkinan hendak dibayarnya utang; tetapi di saat dikatakannya
hendak menyampaikan sesuatu kau pun bertanya-tanya:
Apa yang ingin disampaikannya?
Sesampainya di sana, di kontrakannya
yang dindingnya bercat warna kuning, Jemmi lekas bertanya mau minum apa; dan
kau berkata, seperti biasa saja: segelas kopi hitam panas. Sebagai seorang tamu
yang baik, kau pun mengawali percakapan dengan yang sederhana, dengan yang
sehari-hari, dengan yang mudah dimengerti. Jemmi pun berkata bahwa dia membaca
esai pendekmu yang mana ditanggapi oleh Dwi Koerniawan, penulis novel Luka yang Cantik Mesti Dibalas dengan Cinta
yang Manis, dengan mengatakan bahwa esaimu terlalu merengkek seperti
seorang kanak; juga tanggapan dari Mankris Budi yang mana berkata bahwa esaimu
terasa menggelikan dan menjijikan. Dan Jemmi pun berkata bahwa esaimu memang
asik dan menarik, dan cukup membuat gempar; meski tak segempar kasus pemuatan
cerpen S.A. Ibarat yang berjudul “Iblis Bunga Kejahatan”.
Mendengar pengakuan itu membuatmu
malu; sebab tulisanmu itu memang memalukan. Akan tetapi, sebagai seorang kawan,
setelah memberikan masukan dan kritikan, Jemmi menguatkanmu agar tetap
menulis—di samping bekerja serabutan sebagai seorang pengecat perkuburan. Dan kau
pun tak lupa bertanya tentang abang angkat dari Jemmi:
Bagaimana kabar Nassir Rabbani?
Baik. Kemarin, bahkan, dia berkata kalau
bulan depan istrinya akan lahiran; dan hal itu jadi semacam kebetulan, sebab
buku puisinya juga direncanakan akan terbit bulan depan.
Semacam kelahiran anak kembar, ya?
Ya. Anak biologis dan anak spiritual.
Dan kau pun menyeruput kopimu;
lantas bertanya lagi meyakinkan:
Manuskrip novelmu jadi terbit di
Jakarta?
Ya, akan terbit akhir tahun.
Jadi pakai judul itu?
Jadi. Sepuluh Masa Depan yang Hinggap di Tubuh Perempuan.
Dan kau pun kembali menyeruput
kopimu; dan Jemmi merasa bahwa itu waktu yang tepat untuk menyampaikan maksud
yang sesungguhnya.
Bung, ucap Jemmi serius, hadiah
sayembara yang lumayan banyak itu sudah kupakai sebagian besar untuk membayar
utang; dan aku pun ingin membayar utang-utangku padamu.
Selepas berkata begitu, ia pun lekas
memberikan sebuah amplop, amplop berisi uang; dan kau terkejut mendapati semua
utang-utang, bahkan yang amat lampau dan nyaris kau ikhlasakan, dibayar dalam satu
waktu sekaligus. Kau hendak menolaknya, sebagai suatu kesopanan, tetapi ia
segera paham bahwa kau sangat membutuhkan. Dan karenanya, kau pun menerimannya.
Terima kasih, Jem…
Di dalam, kulebihkan beberapa, bukan
sebagai bunga, tapi sebagai bentuk terima kasih telah menolongku.
Ah, Jem, seperti dengan siapa; toh,
kita sama-sama nggak punya, dan tolong-menolong adalah upaya bertahan hidup,
ya, kan? Berharap kepada negara agaknya adalah suatu yang sia-sia. Jadi, bila
ada yang bisa kubantu, akan kubantu, Jem.
Dalam hal ini, aku tak mau berbasa-basi,
Bung, sebab aku memang hendak meminta bantuanmu.
Katakan saja, Jem. Kalau aku bisa,
akan aku bantu.
Uang sayembara, seperti yang
kubilang, sudah kupakai membayar utang. Dan uang dari kontrak penerbitan,
sebagai uang muka, sudah kubelikan tiket kereta untukmu dan juga aku; dan uang
sisanya hendak kupakai melamar seorang gadis di kota utara.
Mendengar hal itu, kau pun terkejut;
tetapi kau memutuskan untuk lekas mengiyakan—dan tak hanyut pada keterkejutanmu.
Dan kau tak hendak bertanya banyak hal.
Lusa, kita berangkat, ya, Bung?
Ya, besok kerjaanku mengapur
perkuburan juga sudah selesai.
DI dalam kereta,
yang isinya tak terlalu banyak orang, kalian duduk berhadapan. Perjalanan
kalian diiringi hujan. Kalian juga tak banyak bicara; hanya berbicara hingga
sampai stasiun perhentian pertama. Selepas melalui stasiun pertama, kau berkata
hendak tidur sebab lelah kemarin mengapur. Dan Jemmi pun berkata tak apa; ia
tak mau merepotkanmu lebih banyak. Saat hendak terpejam, kau mendapati temanmu
itu membaca buku karya Sjuman Jaya: Aku.
Kau ingin bertanya, tapi kau urungkan; kau pun memilih untuk menerka: Jemmi
hendak meniru Rangga, atau malah hendak meneladani Chairil Anwar dalam adegan
di mana didatanginya langsung rumah seorang gadis dan berkata pada bapaknya
hendak melamar si gadis, atau malah tengah dibuatnya suatu tokoh yang lain lagi.
Dan kau pun terlelap—
Saat sampai ditujuan, kau
dibangunkan oleh Jemmi. Kalian pun turun dan duduk-duduk di ruang tunggu:
melihat-lihat sekeliling. Setelah merasa telah cukup memandang, kalian pergi ke
luar stasiun, mampir ke warung, dan memesan kopi murah.
Hari ini, langsung ke tujuan, Jem?
Esok saja, Bung. Hari ini kita
jalan-jalan keliling kota saja.
Ya, aku ngikut saja.
Dan selepas kopi habis, kalian pun berjalan-jalan
berkeliling kota; berjalan dalam artian sesungguhnya. Dalam perjalanan, Jemmi
bertanya padamu tentang buku kumpulan puisimu; dan kau berkata bahwa itu masih
dikerjakan. Jemmi juga bertanya tentang esai-esaimu; dan kau berkata sudah bisa
dibukukan, dan akan kau bukukan—sebab kau terlampau butuh uang.
Setengah dari kota utara sudah
kalian lintasi, sudah kalian susuri; dan kau pun bertanya pada Jemmi:
Bermalam di mana?
Di depan gereja?
Boleh.
Dan kalian menuju ke gereja terbesar
di kota utara. Kalian kembali berjalan; dan dengan demikian, kalian telah genap
menyusuri tiga perempat kota utara. Dalam perjalanan ke sana, dengan nada
bergurau, Jemmi bertanya padamu:
Mau cari perempuan dulu?
Tidak.
Dan Jemmi tertawa!
Cari makan? tanya Jemmi lagi.
Ya.
Arak?
Boleh. Asal tak sampai mabuk.
Ok. Tenang, pakai uangku…
Dan sesampainya di depan gereja,
kalian mencari tempat yang nyaman untuk istirahat; dan kalian mendapatkanya di
samping gereja, di sebuah ruko yang telah tutup. Di sana, kalian pun makan, dan
minum sebotol arak; dan kalian terlelap dalam.
PAGI hari—
Kalian bangun. Kalian lekas menuju ke
dalam gereja dan minta izin untuk mandi. Jemmi pun sudah memakai pakaian yang
rapi; dan kau pun memakai kemeja berwarna biru tua. Setelah siap, kalian pun
lekas menuju tujuan. Kau tak bertanya di mana atau ke mana; kau hanya mengikut
saja. Dan betapa terkejutnya, perjalanan kalian sudah genap menyusuri seluruh
kota utara sesampainya di tujuan Jemmi, di rumah gadis yang hendak dilamar oleh
Jemmi. Tentu, genap di sini adalah sebagian besar; sebab tak ada yang
benar-benar bisa genap untuk menyusuri kota!
Di ujung sana, ucap Jemmi sambil
menunjuk arah, adalah rumahnya. Kau mau ikut ke dalam?
Jika ada pilihan tidak, aku akan
ambil itu, kau tahu aku tidaklah suka situasi canggung dan menegangkan, kan?
Tapi, kembali lagi, aku ngikut saja, Jem.
Baiklah. Kau tak ikut tak apa. Kau
bisa menunggu di sekitar sini. Nanti, kalau sudah selesai, akan aku kabari
lewat telepon. Bagaimana?
Ya. Aku mengikut saja.
Ok.
Dan Jemmi pun pergi ke sana.
Kau berjalan berkeliling; dan betapa
beruntung, kau mendapati sebuah toko buku bekas kecil. Di sana, kau membaca dan
tenggelam pada buku yang kau baca: Dan
Kematian Makin Akrab—edisi awal.
Seorang gadis dengan seragam SMA
mendekatimu dan berkata:
Buku itu mau Anda ambil?
Mungkin tidak, saya sudah punya di
rumah, meski edisi yang lebih baru.
Boleh saya ambil?
Oh, ya, tentu. Silakan
Gadis itu memegang buku itu dengan
begitu riang.
Suka baca sastra?
Iya, suka.
Kau cukup kaget mendapati seorang
gadis remaja yang suka membaca buku sastra; tapi kau lekas sadar bahwa hal yang
demikian sebenarnya tidak benar-benar mesti dikagetkan. Dan tak butuh waktu
lama untuk kalian menjadi akrab: seolah sudah mengenal begitu lama. Kau seolah
menjadi kembali remaja, kembali pada usia belasan; dan gadis itu seolah
bertambah usianya jadi likuran. Ah! kalian jadi tampak seumuran—tergantung dari
sebelah mana memandang.
Dan gadis itu pun mulai bercerita
tentang cita dan harapannya:
Saya sebenarnya ingin jadi
pengarang…
Tapi tidak diizinkan oleh Ayah?
Iya. Anda sepertinya seorang
cenayang.
Saya hanya menduga.
Dan gadis itu mulai bercerita agak
panjang tentang alasan pelarangan Ayahnya—
Ya. Saya lumayan paham.
Ayah juga melarang saya dan kakak
perempuan saya untuk menikah dengan pengarang atau penyair. Tapi, saya ingin
sekali punya kekasih seorang pengarang seperi kakak perempuan saya.
Kau terdiam. Kau seolah menyadari
sesuatu!
Ah! sudah jam segini, saya mesti
pulang. Saya ambil buku ini, ya?
Tentu.
Gadis itu pun segera membayar buku
itu pada si penjaga. Dan, saat hendak pamit lagi, gadis itu berkata:
Boleh minta nomer telepon Anda?
Boleh. Meski saya sebenarnya adalah
seorang pengarang atau panyair?
Gadis itu tertawa lirih; dan
menambah kecantikannya; dan lantas berkata:
Ya, meski Anda pengarang atau
penyair. Tapi kalau Anda izinkan tentu.
Dan kau pun memberikan nomer
teleponmu—
Terima kasih. Sampai jumpa lagi.
Gadis itu pun pergi.
Teleponmu berbunyi! Telepon dari
Jemmi.
Sesampainya kau di tempat semula,
kau dapati Jemmi yang berdiri menanti.
Sudah lama?
Tidak. Baru saja.
Langsung pulang?
Ya.
Tidak mampir?
Langsung stasiun.
Ok.
Dan kau tak ingin bertanya apa yang
terjadi: ditolak ataukah diterima. Kau memilih diam. Selama perjalanan menuju
stasiun, kalian hanya diam. Di staisun, sembari menunggu kereta, kau pun hanya
diam. Jemmi pun hanya diam.
Di dalam kereta, kalian duduk
berhadapan lagi.
Bung, ucap Jemmi memulai. Apakah
tahun depan baiknya aku datang lagi?
Terserah kau. Aku mendukung saja.
Kalau kau minta temani, akan aku temani.
Jemmi terdiam—
Sesampai kontrakan mau mabuk? ucapmu
memecah hening.
Tidak. Aku mau ke tempat Gus
Adarizki saja.
Mau ngaji?
Mungkin. Tapi yang jelas, aku mau
bayar utang.
Dan kereta pun berjalan. Hujan
kembali membersamai.
Dan . . . ada pesan masuk ke
teleponmu—dari gadis itu: Nama saya K…
(2021)

