Harapan Secarik Kertas
Sore
ini angin bertiup lembut. Pohon menari riang, seolah tidak memiliki beban
apapun. Ayah mengajakku ke suatu tempat. Sebuah jalanan kecil berbatu, dengan
sawah padi di sisi kanan kirinya.
Suasana
menjadi mistis, ketika jalanan tersebut berujung pada beberapa makam tua.
Menurut ayahku, itu adalah makam dari seorang dalang dan dua sindennya yang
sangat terkenal di desaku dulu .
"Sebenarnya
untuk apa sih kita ke sini?" tanyaku bingung.
"Minta
keberuntungan," jawab ayah sambil meletakkan secarik kertas dan pena di
atas makam itu.
Ayah
juga menyalakan dupa. Keheningan menemani kami berdua, aku merasakan bulu
kudukku meremang. Aku rasanya ingin segera pulang.
Setelah
ritual itu selesai. Ayah mengajakku pulang, tak lupa membawa secarik kertas
yang diletakkan di atas makam tadi. Seutas senyum mengembang di wajah tampan
ayahku.
Keesokan
harinya ayah menyerahkan nomor keberuntungannya pada penjual lotre. Ayah sangat
berharap semua usahanya berhasil. Aku hanya bisa mendoakan agar keinginannya
terwujud.
"Nomornya
18."
Ayah
merobek kupon lotre yang dibawanya. Ia kesal karena tidak berhasil, nomor
miliknya 19. Aku hanya bisa menenangkannya. Semoga ayah bisa tabah menghadapi
kekalahannya.
"Dasar
demit kuburan pelit! Cuma bisa memberikan kesialan saja," umpat ayah.
"Kamu
gagal So?" tanya seorang bapak tua, mungkin temannya ayah."
"Iya
Wan," jawab ayahku pada bapak yang bernama Gunawan itu.
"Karso,
kamu nggak pernah berhasil dari dulu. Coba pergi ke pohon beringin yang ada di
sana!" kata Pak Gunawan menunjuk ke arah pohon beringin di dekat SD.
"Di,
ayo ikut aku lagi!"
Aku
masih menatap pohon beringin yang ditunjuk Pak Gunawan. "Ardi, kamu nggak
denger ayah ngomong?!" teriak ayah yang membuatku kaget.
"Maaf
Yah, Ardi tadi nggak denger."
"Ayo
ke beringin itu!"
Aku
hanya bisa menurut. Sejak SMP ayah selalu mengejar undian lotre, aku selalu
diajaknya untuk melakukan ritual agar rencananya berhasil.
Pohon
beringin di dekat SD itu memiliki suasananya menyeramkan. Kabar yang beredar,
di sana adalah kerajaan jin. Seseorang pernah mengalami kejadian misterius di
sana, dia adalah tukang meubel yang diminta mengantarkan pesanan ke rumah
mewah. Orang itu tidak menaruh curiga, ia mengantarkan pesanan yang diminta.
Namun, kebahagiaan tukang meubel itu seketika lenyap. Saat dia sadar, rumah
mewah itu hilang dan hanya tersisa sebuah pohon beringin.
***
Ayah
melakukan ritual di dekat pohon beringin tersebut. Ia sangat berharap penunggu
di sana dapat membantunya. Aku hanya bisa pasrah melihat kesungguhan ayahku,
meskipun semuanya tak dapat diterima logika. Ayah juga selalu marah ketika aku
menasehatinya untuk menghentikan semua ini.
Ayah
kembali berharap keberuntungan menyertainya kali ini. Sebotol air mineral telah
habis diteguknya, dalam kekhawatiran ia tetap optimis berhasil. Terik matahari
tak membuat ayah kehilangan semangatnya.
"Nomor
21."
Nomor
yang dipegang ayahku adalah 20. Ayah yang kesal membanting botol minum yang
dibawanya. Semuanya sudah sia-sia, tidak ada sebuah kemenangan yang dapat diraih
dengan instan.
"Aku
belum kalah ... besok coba lagi!" kata ayah tak menyerah.
Perlahan
mentari mulai tenggelam ke sisi barat, mungkin dia akan segera beristirahat.
Sama seperti kami yang berjalan pulang ke rumah. Angin berembus cukup kuat,
bertarung dengan semangat ayahku yang masih menggebu. Aku hanya bisa berdoa
agar ayah bisa lebih realistis, meskipun semua itu mustahil.
Tentang Penulis
Ia bernama Agus Sanjaya. Lahir di Jombang, 27 Agustus 2000.
Hobi menulis puisi dan cerpen.. Dia menyukai sajak sejak bangku SMP, melalui
itu ia bisa mencurahkan segala keluh kesah dan perasaannya. Agus mulai
menciptakan dua novel di masa pandemi untuk mengisi kebosanan hatinya. Untuk
lebih dekat silakan mengikuti instagramnya agussanjay27.
Terimakasih banyak Kosana, telah memuat karya saya 😊
BalasHapus