Ulasan Intan Hafidah NH: Puisi Fatiya An

 


Metamorfosa Puisi Perempuan Pecinta Hujan

Membaca Puisi Kamuflase Hujan dari Fatiya An



FatiyaPayung nama penanya, lahir pada tanggal 14 September 2003 di Kota Kembang, Bandung. Mahasiswa baru 2021 di fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung. Menulis adalah sarana mengekspresikan diri menjadi diri apa adanya, menyampaikan isi hati dan pikiran dibalik rangkaian kata dan kalimat. Blog : https://colourofpayung.blogspot.com/?m=1

Fatiya merupakan seorang penulis puisi yang terbilang usianya paling muda dibandingkan penulis puisi komunitas kosana lainnya. Saya mengikuti perkembangan puisi-puisi Fatiya dari awal mengikuti jadwal mingguan absen karya puisi kosana hingga sekarang kurang lebih sudah setahun. Puisi Fatiya sering memiliki daya pikat tersendiri mulai dari kemasan grafis yang menarik yang dipublikasi di instagram dan juga di blogger pribadinya. Banyak hal-hal menarik yang Fatiya angkat dalam puisinya, misalkan hal-hal mengenai dunia sekolah SMA-nya sebagai pelajar, contohnya pada puisinya yang berjudul: Labirin Sekolah.

Puisi Fatiya tidak seperti puisi lainnya yang hanya menyampaikan perasaan seorang anak remaja yang sedang kasmaran, tapi lebih dari itu. Dia dapat mengemas dunia sekolah dalam puisinya begitu menarik, ini terbukti setiap kali Fatiya mempublikasi karyanya di sosial media, pembaca atau penikmat yang menyukai postingannya begitu banyak, dan juga dukungan melalui komentar yang positif.

Akhir-akhir ini saya merasakan ada perkembangan dari penulisan puisi Fatiya yang cukup signifikan. Mulai dari pendewasaan bahasanya dan keberanian ruang lingkup tema yang diambil oleh Fatiya. Sepertinya ia sedang mencoba keluar dari zona nyaman dengan menuliskan suatu gagasan yang bukan murni pengalaman pribadi melainkan mencari sudut pandang lain dan masuk ke dalam penokohan atau citraan baru yang sedang ia hidupkan dalam puisinya. Perubahan ini saya sadari sejak membaca puisinya yang berjudul "Malam" berikut puisinya:

 

Malam

 

Malam bagaikan sebilah pisau

Udara dingin yang menusuk

Dan kegelapan yang membutakan

Karena mimpi buruk yang tak kunjung lapur

 

Kucoba menutup mata

Memeluk diri sendiri

Tak menghiraukan malam

Tapi aku berakhir terjaga lagi

 

Sebuah jurang antara rindu dan takut

Karena mereka yang pergi dan tak kembali

Meninggalkan jejak tak terelakkan

Di antara malam-malam yang sunyi

 

Bandung, 26 Juli 2021

 

Dituliskan dalam puisi tersebut membahas suasana  malam yang mulai melambangkan "Malam bagaikan sebilah pisau; Udara dingin yang menusuk; Dan kegelapan yang membutakan; Karena mimpi buruk yang tak kunjung lapur." Penyimbolan malam sebagai sebilah pisau ini sudah merupakan keberanian Fatiya melakukan pilihan simbol yang antik, namun imajinasi yang dibangun tetap dapat padu, sehingga pesan yang disampaikan dalam puisi tersebut mengenai suasana malam yang begitu seram dan menakutkan tersampaikan dengan estetik untuk pembacanya.  Ia menyampaikan bahwa pengalaman batin seseorang yang risau jika malam datang, kemudian datang juga kesendirian yang memasukannya ke dalam jurang rindu dan takut kepada kenangan seseorang yang telah meninggalkan kenangan begitu manis, namun rindu itu tidak akan tersampaikan dengan temu karena sudah berbeda alam. Puisi ini sudah menggunakan penyimbolan namun gambaran malam masih belum seutuhnya disampaikan atau masih terbilang umum. Untuk mengatasi keumuman dalam puisi diperlukan detail dan fokus pembahasan yang akan disampaikan secara menyeluruh dari ide yang dibawakan.

Fatiya merupakan penulis yang menyukai dikenal dalam dunia kepenulisan dengan nama pena " FatiyaPayung". Kenapa saya memberikan judul cover dari tulisan ringan apresiasi tipis-tipis ini "Metamorfosa Puisi Perempuan Pecinta Hujan" karena pasti ada alasannya mengapa Fatiya memakai nama pena kata payung dan ada hubungannya dengan hujan. Mengenai penjelasan lebih rinci nama pena Fatiya ini, bisa dilihat dalam blogger pribadinya. Mungkin saja tebakan saya ini kurang tepat.

Metamorfosa puisi Fatiya dapat kita lihat dari puisi lamanya yang berjudul "Labirin Sekolah" berikut merupakan puisinya:

 

Labirin Sekolah

 

Bel masuk berbunyi

Saatnya kami menjelajahi labirin

Mencari harta karun tersembunyi

Di antara dinding yang berwarna warni

 

Ada rumus-rumus di dindingnya

Prasa-prasa baru

Catatan undang-undang

Atau kisah-kisah nenek moyang

 

Guyonan dan tawa

Meliputi atmosfer perjalanan

Tak jarang diliputi tangis

Atau perdebatan kecil antara kami

 

Ada yang keluar dengan tangan kosong

Cukup merasa puas karena bisa keluar

Merasa puas karena tinta di atas kertas

Atau merasa puas dengan destinasi selanjutnya

 

Tapi ada mereka yang keluar dengan harta karun

Bukan tinta

Bukan juga harta

Tapi pelajaran hidup untuk masa yang akan datang

 

Bandung, 10 Agustus 2020

 

Jika dibandingkan dengan puisi terkini maka akan dapat dilihat terdapat pendewasaan bahasa dan tema yang dibahas Fatiya mengalami perkembangan. Dapat dilihat dari puisi "Kamuflase Hujan" berikut puisi lengkapnya:

 

Kamuflase Hujan

 

Seorang gadis binal berlari

Dalam hujan deras nan berangin

Mengabaikan seruan para penduduk

Mengabaikan angin yang menusuk

 

Jauh dalam lubuk hati yang terdalam

Ada hujan yang lebih deras

Jurang antara kecewa dan cemas

Melapukkan batu kuat nan keras

Menciptakan luka yang berbekas

 

Maka gadis binal itu berkamuflase dalam hujan

Ia tertawa dan tersenyum senang

Matanya tak menampakkan kesedihan

Tapi ada tetesan yang jatuh bersama air hujan

Ketika orang-orang memaki untuk kesekian kalinya

 

Saat hujan telah reda

Ia pun menepuk dada

Karena yang barusan hanya jeda

Sebelum melanjutkan perjalanan

Yang mungkin akan mendatangkan hujan yang berbeda

Sembari menerka apakah ia bisa berkamuflase lagi nanti?

 

Bandung, 2 Agustus 2021

 

Puisi berikut bercerita seorang gadis nakal atau gadis binal yang sedang dihujani oleh omongan-omongan orang, tentangnya. Gadis binal di sini dapat diartikan sebagai seorang perempuan yang nakal melanggar norma-normal sosial atau melakukan kenakalan remaja. Pembahasan ini tentu memiliki keberanian tersendiri bagi penulis yang memilihnya sebagai subjek dari karyanya. Puisi yang membahas hal yang terlalu tabu dibahas akan tersampaikan dengan baik ke pembaca ketika menggunakan simbol dan diksi yang tepat. Fatiya berhasil membangun imajinasi pembaca dengan olahan diksi yang tepat. Selain perubahan mengenai tema atau topik yang dibahas juga pendewasaan bahasa dapat dilihat ketika Fatiya memainkan alur yang tersusun dalam puisi memiliki kepaduan yang baik.

Namun ada beberapa luput dalam puisi Fatiya yang masih sama masalahnya antara puisinya yang dulu dan sekarang yaitu: keefektifan pemakaian kata dan penulisan tanda hubung yang masih salah. Kurang efektif puisi Fatiya dapat dilihat dalam puisinya yang berjudul "Kamuflase Hujan" disebutkan larik "Ia tertawa dan tersenyum senang" apa bedanya tertawa dan tersenyum senang? Ini merupakan pemborosan kata yang seharusnya dapat diefektifkan kembali. Dan jika dilihat dari puisi lamanya yang berjudul "Labirin Sekolah" juga terdapat ketidakefektifan bahasa seperti dalam larik "Guyonan dan tawa", guyon dan tawa tersebut memiliki arti yang sama dan seharusnya dapat dipilih kata salah satu saja. Masalah ini dapat diatasi dengan perenungan kembali penulis akan karya yang ia tuliskan, atau dapat juga dibilang mematangkan puisi. Kesalahan soal keefektifan puisi ini jika puisi terlihat bertele-tele namun tidak diperlukan dan tidak menambah estetika puisi itu sendiri biasanya terjadi, karena ketidak sabaran penulis dalam menuliskan karyanya, saya pun sering mengalami ini. Memang penting pengendapan karya, memberi jeda antara penulis dan karyanya, agar dapat menghasilkan puisi yang lebih matang lagi bahasanya.

Selebihnya semua penulis memiliki proses kepenulisannya masing-masing. Setiap tulisan pasti memiliki keunggulan dan kekurangan, hanya saja kita dapat mengolahnya menjadi lebih baik lagi atau tidak dari hasil evaluasi. Mengevaluasi karya sendiri bukan hal yang tidak mungkin tapi akan efektif jika dievaluasi oleh orang lain yang lebih mengerti akan bidang yang dibahas. Di sinilah fungsi mentoring atau kegiatan diskusi komunitas ataupun kelas kepenulisan mengambil peran. Dengan aktif mengikuti kegiatan komunitas atau kelas kepenulisan kita juga aktif memperbaiki kualitas karya kita dan menebar manfaat ke masyarakat luas lebih melimpah.

Apakah metamorfase puisi pecinta hujan "Fatiya" ini hanya sampai di sini? Tentu tidak, karena tulisan ini sangat sempit untuk menilai proses kreatif seorang penulis. Ini merupakan awal untuk metamorfosa itu. Melihat proses kreatif seorang penulis tidak dapat hanya melihat dari satu karya sastranya saja namun beberapa yang mewakili setiap periode kepenulisannya (dalam hal puisi disebut kepenyairan). Tiga puisi di atas merupakan puisi Fatiya yang sangat melekat dalam ingatan saya, perbandingan ini saya lakukan untuk mengapresiasi hasil belajar “Fatiya” dalam menulis puisi. Benar pendapat Ayah Abdul Wachid B.S., dalam buku kritik sastranya yang berjudul “Sastra Pencerahan” bahwa puisi ataupun karya sastra lainnya merupakan sebuah keluarga yang memiliki ibu (penulisnya) dan ayah (kritikus sastra) untuk menghasilkan anak (karya sastra) yang sehat atau baik. Artinya karya sastra dalam proses perkembangannya sangat membutuhkan kritik sastra sebagai penunjang kelangsungan dan peningkatan karya sastra itu sendiri. Semoga tulisan ini dapat memberi peran ayah yang baik untuk Fatiya dan anak-anak puisinya di masa mendatang. Semoga tulisan-tulisan Fatiya dapat memayungi setiap keadaan yang terjadi, meneduhkan, dan menguatkan.

 

Banyumas, 3 Agustus 2021

 

  

Tentang Penulis

 

Intan Hafidah Nur Hansah.  Lahir 13 Maret 1999 di Banyumas. Mahasiswi Universitas Terbuka Purwokerto, Prodi S1 Agribisnis. Berkegiatan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Mengasuh komunitas Kosana, Penerbitan Kosana Publisher, harianvisualisasi.my.id, kosana.my.id, dan sksp-literary.com. Puisi-puisinya mendapatkan rumah di pelbagai antologi dan terpublikasi di pelbagai media. Berkenalan lebih lanjut? Hubungi IG: intanhafidahnh / FB: intanhafidahnh, gmail; tintabiru1111@gmail.com, blog: https://intanbiru13.blogspot.com.

Posting Komentar

2 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
  1. Huaaaa terhura banget, Alhamdulillah. Makasih bundaaaa semoga makin sukses makin lancar perjalanannyaaa. Mohon bantuan dan bimbingannya ke depannya, aku gk akan bisa sampai sini kalo bukan karena bimbingan bunda dan temen2 kosana semuaaa. Makasih dan semangaaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap fatiya kesayangan kosana, teruslah berkarya fatiya, bunbun yakin suatu hari nanti fatiya jadi penyair besar, asalkan terus berkarya, membaca, berdoa, insyaAllah semua mimpi fatiya tercapai, semangat selalu....

      Hapus